asuhan keperawatan hemoroid
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Hemoroid
dikenal di masyarakat sebagai penyakit wasir atau ambeien merupakan penyakit
yang sering dijumpai dan telah ada sejak jaman dahulu. Namun masih banyak
masyarakat yang belum mengerti bahkan tidak tahu mengenai gejala-gejala yang
timbul dari penyakit ini. Banyak orang awam tidak mengerti daerah anorektal
(anus dan rektum) dan penyakit-penyakit umum yang berhubungan dengannya. Anus
merupakan lubang di ujung saluran pencernaan dimana limbah berupa tinja keluar
dari dalam tubuh. Sedangkan rektum
merupakan bagian dari saluran pencernaan di atas anus, dimana tinja disimpan
sebelum dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Sepuluh juta orang di Amerika
dilaporkan menderita hemoroid dengan prevalensi lebih dari 4 % (Probosuseno,
2009).
B. Rumusan
Masalah
1. Apa Definisi
dari Hemoroid?
2. Apa Etiologi
dari Hemoroid?
3. Bagaimana
Patofisiologia dari Hemoroid?
4. Bagaiman
Pathway dari Hemoroid?
5. Manifestasi
Klinis dari Hemoroid?
6. Apa
Pemeriksaan Diagnostik dari Hemoroid?
7. Bagaimana
Penatalaksanaan Medis dari Hemoroid?
8. Asuhan
Keperawatan Hemoroid?
C. Tujuan
Makalah ini dibuat untuk menambah
pengetahuan dan wawasan mahsiswa tentang hemoroid.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Hemoroid
adalah bagian vena yang berdulatasi dalam kanal anal. Hemoroid sangat umum
terjadi. Pada usia 50an 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid
berdasarkan luasnya vena yang terkena. Kehamilan diketahui mengawali atau
memperberatadanya hemoroid. Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal, yaitu hemoroid
yangterjadi diatas sfingter anal sedangkan yang muncul di luar sfingter anal
disebut hemoroid eksternal.
Hemoroid merupakan pelebaran dan
inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang dari plexus hemorrhoidalis.
Hemoroid eksternal adalah pelebaran vena yang berbeda dibawah kulit (subkutan)
dibawah atau luar linea dantate. Hemoroid internal adalah pelebaran vena yang
berada dibawah mukosa (sumukosa) di atas atau di dalam linea dentate. (Sudoyo
Aru,dkk 2009).
B. Etiologi
Hemoroid timbul karena dilatasi,
pembengkakan atau inflamasi vena hemoroidalis yang disebabkan oleh
factor-factor resiko/pencetus, seperti:
1.
Mengedan
pada buang air besar yang sulit
2.
Pola
buang air besar yang salah (lebih banyak menggunakan jamban duduk terlalu lama
duduk dijamban sambil membaca, merokok)
3.
Peningkatan
tekanan intra abdomen karena tumor (tumor udud, tumor abdomen)
4.
Kehamilan
disebabkan tekanan jenis pada abdomen dan perubahan homoral)
5.
Usia
tua
6.
Konstipasi
kronik
7.
Diare
akut yang berlebihan dan diare kronik
8.
Hubungan
seks peanal
9.
Kurang
minum iar dan kurang makan berserat (sayur dan buah)
C. Klasifikasi
dan derajat (Sudoyo Aru, dkk 2009)
Berdasarkan gambaran klinis
Hemoroid interna dibagi atas:
1.
Derajat
1: pembesaran hemoroid yang tidak prolpas ke luar kanal anus. Hanya dapat
dilihat dengan anorektoskop
2.
Derajat
2: pembesaran hemoroid yang prolpas dan menghilang atau masuk sendiri kedalam
anus secara spontan
3.
Derajat
3: pembesaran hemoroid yang prolpas dapat masuk lagi ke dalam anus dengan
bantuan dorongan jari
4.
Derajat
4: proplas hemoroid yang permanen. Rentan dan cenderung untuk mengalami
trhrombosis dan infrak
Secara anoskopi
hemoroid dibagian atas:
1.
Hemoroid
eksterna (diluar/dibawah linea dentate)
2.
Hemoroid
interna(didalam/diatas linea dentate)
D. Manefestasi
klinis
1.
Timbul
rasa gatal dan nyeri
2.
Perdarahan
berwarna merah terang saat defekasi
3.
Pembengkakan
pada area anus
4.
Nekrosis
pada area sekitar anus
5.
Perdarahan/prolaps
E. Tanda
dan Gejala
2. Gatal atau
iritasi (pedih) di daerah anus
3. Nyeri atau
ketidaknyamanan pada anus
4. Pembengkakan
di sekitar anus
5. Benjolan
teraba lunak di dekat anus, yang mungkin sensitif atau menyakitkan
Gejala wasir biasanya tergantung pada lokasinya (jenis wasirnya). Pada Hemorrhoid
interna yang terletak di dalam rektum sehingga tidak dapat terlihat dari
luar atau merasakan ketidaknyamanan, tanda yang sering muncul hanya BAB berdarah yang tidak berasa sakit,
perdarahan terjadi akibat gesekan permukaan wasir yang rapuh dengan feses (yang
keras). Akan tetapi ketika Hemorrhoid interna menjadi parah maka benjolan
pelebaran darah vena dapat menonjol keluar melalui lubang anus sehingga
menimbulkan rasa sakit. Hal ini biasanya terjadi ketika buang air besar karena
tekanan mengedan dan terdorong oleh feses.
Sedangkan pada hemorrhoid eksterna berada di bawah kulit di sekitar
anus. Ketika teriritasi, wasir eksterna dapat menjadi gatal atau berdarah.
Terkadang darah dapat terkumpul dan membentuk gumpalan atau bekuan (trombus)
yang mengakibatkan rasa sakit yang parah, pembengkakan dan peradangan.
F. Patofisiologi
Drainase daerah anorektal
adalah melalui vena-vena hemoroidalis superior dan inferior. Vena hemoridalis superior mengembalikan daerah ke v. mesenterika inferior dan berjalan submukosa dimulai dari daerah anorektal dan
berada dalam bagian yang disebut kolumna morgagni, berjalan memanjang secara
radier sambil mengadakan anostomosis. Ini menjadi varices disebut hemoroid
interna. Lokasi primer hemoroid interna (pasien berada dalam posisi litotomi)
terdapat pada tiga tempat yaitu anterior kanan, posterior kanan dan lateral
kiri. Hemoroid yang lebih kecil terjadi diantara tempat-tempat tersebut. V.
hemoroidales inferior memulai venular dan pleksus – pleksus kecil di daerah
anus dan distal dari garis anorektal. Pleksus ini terbagi menjadi dua dan
pleksus inilah yang menjadi varices dan disebut hemoroid eksterna (Mansjoer,
2000 : 321).
Hemoroid timbul akibat
kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis.
Beberapa faktor etiologi telah diajukan termasuk konstipasi atau diare, sering
mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, pembesaran prostat, fibroma uteri,
dan tumor rektum. Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal sering
mengakibatkan hemoroid, karena vena hemoroidalis superior mengalirkan darah ke
dalam sistem portal. Selain itu, sistem portal tidak mempunyai katub, sehingga
mudah terjadi aliran balik. (Price, 1995 : 420).
G. Komplikasi
1.
Terjadinya perdarahan
Pada derajat
satu darah kelur menetes dan memancar. Perdarahan akut pada umumnya jarang,
hanya terjadi apabila yang pecah adalah pembuluh darah besar. Hemoroid dapat
membentuk pintasan portal sistemik pada hipertensi portal, dan apabila hemoroid
semacam ini mengalami perdarahan maka darah dapat sangat banyak. Yang lebih
sering terjadi yaitu perdarahan kronis dan apabila berulang dapat menyebabkan anemia
karena jumlah eritrosit yang diproduksi tidak bisa mengimbangi jumlah yang
keluar. Anemia terjadi secara kronis, sehingga sering tidak menimbulkan keluhan
pada penderita walaupun Hb sangat rendah karena adanya mekanisme adaptasi.
Apabila hemoroid keluar, dan tidak dapat masuk lagi (inkarserata / terjepit)
akan mudah terjadi infeksi yang dapat menyebabkan sepsis dan bisa mengakibatkan
kematian.
2.
Terjadi trombosis
Karena
hemoroid keluar sehingga lama - lama darah akan membeku dan terjadi trombosis.
3.
Peradangan
Kalau terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat
terjadi infeksi dan meradang karena disana banyak kotoran yang ada kuman –
kumannya.
4.
Pengobatan/Perawatan
Hemoroid
a.
Obat oles yang bisa dibeli
secara bebas
Berbagai macam krim, salep, dan
obat suppositoria tersedia di toko obat tanpa memerlukan resep dokter.
Suppositoria adalah jenis obat-obatan yang dimasukkan langsung ke dalam anus.
Obat-obatan sejenis ini bisa dipakai untuk meredakan pembengkakan atau
ketidaknyamanan yang dirasakan pasien.
b.
Pemakaian krim kortikosteroid
Jika Anda mengalami peradangan
atau inflamasi di dalam atau pun di sekitar anus, dokter akan menyarankan
penggunaan krim kortikosteroid. Jangan gunakan krim ini lebih dari tujuh hari
berturut-turut. Krim ini bisa membuat kulit di sekitar anus menipis dan
memperburuk iritasi.
c.
Obat pereda rasa sakit
Parasetamol
sebagai salah satu obat pereda rasa sakit, bisa membantu meredakan rasa sakit
akibat hemoroid. Hindari obat pereda rasa sakit sejenis kodein. Obat ini bisa
menyebabkan dan memperburuk konstipasi.
5.
Pemeriksaan
fisik
Pasien di
baringkan dengan posisi menungging dengan kedua kaki di tekuk dan menempel pada
tempat tidur.
a.
Insfeksi
§
Pada insfeksi lihat apakah ada benjolan sekitar anus
§
Apakah ada benjolan tersebut terlihat pada saat
prolapsi.
§
Bagaiman warnaya , apakah kebiruaan, kemerahan,
kehitaman.
§
Apakah benjolan tersebut terletak di luar ( Internal /
Eksternal ).
b.
Palapasi
Dapat
dilakuakan dengan menggunakan sarung tangan + vaselin dengan melakuakn rektal
tucher, dengan memasukan satu jari kedalam anus. Apakah ada benjolan tersebut
lembek, lihat apakah ada perdarahan.
H. Pemeriksaan
diagnostik
Pemeriksaan
fisik yaitu inspeksi dan rektaltouche (colok dubur)
Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat
diraba sebab tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak
nyeri. Hemoroid dapat diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering
prolaps, selaput lendir akan menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan
terasa padat dengan dasar yang lebar. Pemeriksaan colok dubur ini untuk
menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.
a.
Anoskopy
Dengan cara
ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar. Anoskop dimasukkan
untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi. Anoskop dan
penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan
penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai struktur
vaskuler yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta mengejan
sedikit maka ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan
lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain
dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan.
b.
Pemeriksaan Proktosigmoidoskopy
Proktosigmoidoskopi
perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan oleh proses radang
atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan
fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses harus diperiksa terhadap
adanya darah samar.
c.
Rontgen (colon inloop) atau
Kolonoskopy
d.
Laboratorium
:
oEritrosit
oLeukosit
oHb
BAB III
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN HEMOROID
Hemoroid
Hemoroid
adalah bagian vena yang berdulatasi dalam kanal anal. Hemoroid sangat umum
terjadi. Pada usia 50an 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid
berdasarkan luasnya vena yang terkena. Kehamilan diketahui mengawali atau
memperberatadanya hemoroid. Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal, yaitu hemoroid
yangterjadi diatas sfingter anal sedangkan yang muncul di luar sfingter anal
disebut hemoroid eksternal.
Manifestasi
Klinis
Hemoroid
menyebabkan rasa gatal dan nyeri, dan sering kali menyebabkan perdarahan
berwarna merah terang pada saat defekasi. Hemoroid eksternal dihubungkan dengan
nyeri hebat akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis.
Trombosis adalah pembekuan darah dalam hemoroid. Ini dapat menimbulkan iskoma
pada areatersebut dan nekrosis. Hemoroid internal tidak selalu menimbulkan
nyeri sampai hemoroid ini membesar dan menimbulkan pendarahan atau prolaps.
Penatalaksanaan
Gejala
hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan higiene personal yang baik
dan menghindari mengejan berlebihan selama defekasi. Diet tinggi serat yang
mengandung buah dan sekam mungkin satu-satunya tindakan yang diperlukan; bila
tindakan ini gagal laksatif yang berfungsi mengabsorpsi air saat melewati usus
dapat membantu. Rendam duduk dengan salep dan supositoria yang mengandung
anestesi, astringen (witch hazel) dan tirah baring adalah tindakan yang
memungkinkan pembesaran berkurang.
Kehamilan obesitas
|
Konstipasi dan mengejan dalam jangka yang lama
|
Kondisi
penuaan
|
Sering
angkat beban berat
|
Duduk terlalu lama
|
Hipertensi
portal (sirosis hepatis)
|
Penurunan
relative venous return didaerah perianal (yang disebut dengan efek tourniquet)
|
Aliran
vena balik terganggu
|
Tekanan
periver meningkat-pelebaran vena anus (hemoroid)
|
Peradangan
pada pleksus hemoroidalis
|
Prolaps vena haemorhoidalis
|
Membesar di spinchter
|
Membesar di luar rectum
|
Vena
menegang
|
Ruptur
vena
|
perdarahan
|
Intoleransi aktivitas
|
Operasi
(hemoroidektomi)
|
Resiko Syock (hipovolemik)
|
Anemia
|
Continuitasn
jaringan rusak
|
Port
d’entree kuman
|
Ujung
saraf rusak
|
Pre
operasi
|
Ansietas
|
Pelepasan
prostaglandin
|
Resiko infeksi
|
Nyeri
di persepsikan
|
Gangguan rasa nyaman nyeri
|
Gangguan
defekasi
|
konstipasi
|
Diagnosa
Keperawatan
1.
Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan anemia
2.
Resiko
Syock (hipovolemik)
3.
Ansietas
berhubungan dengan pembedahan rasa malu
4.
Resiko
infeksi berhubungan dengan obesitas
5.
Gangguan
rasa nyaman nyeri Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya
hemoroid
6.
Konstipasi
berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama
eleminasi
1.
Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan
Subjektif:
-
klien
mengatakan ketidaknyamanan atau dispnea saat beraktivitas
Objektif:
-
respon
tekanan darah abnormal terhadap aktivitas
Tujuan umum:
-
Kriteria hasil:
-
toleransi aktivitas : respons fisiologi terhadap gerakan yang memakan energi dalam
aktivitas
-
Energi Psikomotorik : dorongan dan energi individu
untuk mempertahankan aktivitas hidup sehari-hari, nutrisi, dan keamanan
personal.
Intervensi dan rasional:
Intervensi
|
Rasional
|
|
Aktifitas,
jenis prosedur yang kurang berhati-hati akan meningkatkan kerusakan daerah
haemoroid
|
|
Imobilisasi yang dipaksakan
dapat memperbesar kegelisahan. Aktivitas pengalihan membantu dalam
memfokuskan kembali perhatian pasien dan meningkatkan koping dengan
keterbatasan tersebut.
|
|
Menurunkan
resiko iritasi pada hemoroid
|
|
Antisipasi
terhadap nyeri dapat meningkatkan ketegangan otot. Obat dapat merelaksasikan
pasien, meningkatkan rasa nyaman selama pasien melakukan aktivitas.
|
2.
Resiko
Syock (hipovolemik)
Subjektif:
-
Klien mengatakan pada kulitnya
terlihat bercak merah
-
Klien mengatakan adanya luka pada
kulit nya
-
Klien mengatakan jika kencing nya
terdapat darah
-
Klien mengatakan gusi nya berdarah
-
Klien mengatakan kadang mimisan
Objektif:
-
TTV = Nadi :
130 X / menit
Napas : 30 x / menit
Suhu : 40oC
TD : 80 / 50 mmHg
-
Pada klien terlihat purpura
-
Pada klien ditemukan bula hemoragi
-
Pada klien ditemukan hemoragi subkutan dan hematoma
-
Pada klien ditemukan sputum mengandung darah
-
Pada klien terlihat perubahan tingkat kesadaran
Tujuan umum:
-
Tidak
terjadi syok hipovolemik
Kriteria hasil:
-
Tanda
Vital dalam batas normal
Intervensi dan rasional:
Intervensi
|
Rasional
|
Monitor keadaan umum pasien
|
Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama
saat terdi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok /syok
|
Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
|
Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk
memastikan tidak terjadi presyok / syok.
|
Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan
segera laporkan jika terjadi perdarahan
|
Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda
perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat
segera diberikan.
|
Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
|
Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan
cairan tubuh secara hebat.
|
Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombosit
|
Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang
dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
|
3.
Ansietas
berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu
Subjektif :
-
Pasien
mengatakan sulit tidur
-
Pasien
mengatakan gelisah
Objektif:
-
Pasien
mengekspresikan ke khawatiran
-
Pasien
terlihat mengalami kesedihan dan ketakutan
-
Pasien
terlihat gemetar
Tujuan
umum:
-
Tingkatan
ansietas:
-
Pengendalian
diri terhadap ansietas
-
Konsentrasi
-
Koping
-
Pasien dapat menerima secara nyata kondisi penyakit
dengan positif.
Kriteria
hasil:
-
Menunjukkan rileks dan melaporkan
penurunan ansietas sampai tingkat ditangani.
-
Mengatakan perasaan dan cara yang
sehat untuk menghadapi masalah
-
Menunjukkan keterampilan
pemecahan masalah dan penggunaan sumber secara efektif
Intervensi
dan rasional:
Intervensi
|
Rasional
|
1.
Evaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal dan non
verbal pasien. Dorong
ekspresi bebas akan emosi
|
1.
Ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat,
meningkatkan perasaan sakit, penting dalam prosedur diagnostik dan
kemungkinan pembedahan.
|
2.
Jelaskan prosedur atau asuhan yang diberikan. Ulangi
penjelasan dengan sering atas sesuai kebutuhan.
|
2.
Rasa takut akan ketidaktahuan diperkecil dengan
informasi atau pengetahuan dan dapat meningkatkan penerimaan dialisis
|
3.
Dorong menyatakan perasaan. Berikan umpan balik
|
3.
Membuat hubungan terapeutik. Membantu pasien/ orang
terdekat dalam mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress.
|
4.
Tunjukkan indikator positif pengobatan, contoh
perbaikan nilai laboratorium, TD stabil, berkurangnya kelelahan.
|
4.
Meningkatkan perasaan berhasil atau maju
|
5.
Berikan lingkungan yang tenang pada pasien
|
5.
Memindahkan pasien stress dari luar, meningkatkan
relaksasi, membantu menurunkan ansietas.
|
6.
Bantu pasien belajar mekanisme koping baru, misal :
tehnik mengatasi stress, keterampilan organisasi
|
6.
Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat
membantu dalam menurunkan stress dan ansietas, meningkatkan kontrol penyakit.
|
4.
Resiko
infeksi berhubungan dengan obesitas
Subjektif:
-
Klien mengeluh badan terasa panas
Objektif:
-
Badan klien saat diraba terasa panas
-
Suhu klien > 36.5oC
Tujuan umum:
-
Keparahan
infeksi : tingkat keparahan infeksi dan gejala terkait
Kriteria hasil:
-
Klien
memperlihatkan higiene personal yang adekuat
Intervensi
dan rasional:
Intervensi
|
Rasional
|
1.
Minimalkan
risiko infeksi pasien dengan:
a.
Mencuci
tangan tangan sebelum dan setelah memberikan perawatan. Mencuci tangan adalah
satu-satunya cara terbaik untuk mencegah penularan patogen.
b.
Menggunakan
sarung tangan untuk mempertahankan aspesis pada saat memberikan perawatan
langsung
|
1.
Sarung
tangan dapat melindungi tangan pada saat memegang luka yang dibalut atau
melakukan berbagai tindakan.
|
2.
Yakinkan
asupan nutrisi yang adekuat. Tawarkan suplemen tinggi protein bila tidak
dikontraindikaskan.
|
2.
Tindakan
ini membantu menstabilkan berat badan, meningkatkan tonus dan massa otot, dan
membantu penyembuhan luka
|
5.
Gangguan
rasa nyaman nyeri
Subjektif:
-
Klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus
-
Klien
mengeluh nyeri pada saat duduk
-
Klien
mengeluh nyeri pada saat BAB
Objektif:
-
Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-
Klien tampak meringis menahan nyeri
-
Klien tampak memegangi daerah yang terasa nyeri
-
Skala nyeri klien 2-3 dari 5
Tujuan umum:
Kriteria hasil:
-
Mampu
mengontrol kecemasan
-
Mampu
mengontrol nyeri
-
Responterhadap
pengobatan
-
Status
kenyamanan meningkat
-
Dapat
mengontrol ketakutan dan agresi pengendalian diri
Intervensi dan rasional:
Intervensi
|
Rasional
|
Berikan
posisi yang nyaman
|
Meminimalkan stimulasi / meningkatkan relaksasi
|
Berikan
bantalan di bawah bokong saat duduk
|
Meminimalkan
tekanan di bawah bokong saat duduk
|
Ajarkan teknik
untuk mengurangi rasa nyeri seperti relaksasi dan distraksi
|
Pengalihan
perhatian dengan kegiatan lain untuk mengurangi nyeri
|
Observasi
tingkatan nyeri
|
Memantau sejauh mana nyeri tersebut, berkurang atau
bertambah
|
Kolaborasi
dengan tim medis untuk pemberian analgesik, pelunak feses, dan dilakukannya
hemoroidectomi
|
Mengurangi nyeri dan menurunkan rangsang saraf simpatis
dan untuk mengangkat hemoroid
|
6.
Konstipasi
berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama
eleminasi
Subjektif: mengharapkan defekasi setiap
hari
Mengharapkan
pengeluaran feses pada waktu yang sama setiap hari
Objektif: pengunaan laksatif, enema, dan
supositor [untuk merangsang defekasi setiap hari] yang berlebihan
Tujuan umum:
-
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x24 jam mendapatkan pola eleminasi
adekuat
-
Eliminasi kembali normal
Kriteria hasil:
-
Melaporkan
keluarnya feses disertai berkurangnya nyeri dan mengejan
-
Membuat kembali pola yang normal
dari fungsi usus.
-
Pasien dapat mengeluarkan feses
lunak/ konsistensi agak berbentuk tanpa mengejan
-
Menciptakan kembali kepuasan pola
eliminasi usus
-
Intervensi
dan rasional:
Intervensi
|
Rasional
|
Mandiri
|
Untuk mengembalikan keteraturan pola defekasi
klien
|
|
Untuk memfasilitasi refleks defekasi
|
|
Nutrisi serat tinggi untuk melancarkan
eliminasi fekal
|
|
Untuk melunakkan eliminasi feses
Untuk melunakkan feses
|
Kolaborasi
|
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Hemoroid adalah distensi vena di
daerah anorektal. Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah
menimbulkan nyeri dan perdarahan. Istilah hemoroid lebih dikenal sebagai
ambeien atau wasir oleh masyarakat. Akibat dari adanya hemoroid adalah timbulnya
rasa tidak nyaman. Hemoroid bukan saja mengganggu aspek kesehatan, tetapi juga
aspek kosmetik bahkan sampai aspek sosial. Hemoroid mengakibatkan
komplikasi,diantaranya adalah terjadi anemia dan hipotensi. Hemoroid juga dapat
menimbulkan cemas pada penderitanya akibat ketidaktahuan tentang penyakit dan
pengobatannya.
B.
Saran
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
yang sifatnya membangun untuk hasil yang lebih baik dari makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dongoes Moorhouse Geissle, 2001. Rencana Asuhan
Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC
Nurarif,
Amin Huda & Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi
keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda. jilid 2. yogyakarta: Mediaction
Price,
Sylvia Anderson. 1989. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta : EGC
Schrock,
Theodore R. 1991. Ilmu Bedah. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne (2001). Brunner and Suddarth
Medical Surgical Nursing. Alih bahasa: Monica Ester. Edisi 8. Jakarta. EGC.
Wilkinson, Judith M. & Ahern,
Nancy R. 2012. Buku Saku Diagnosa
Keperawatan Edisi 9. Jakarta: EGC
Komentar
Posting Komentar