askep gastrointestinal



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Definisi
Gastrointestinal ialah suatu kelainan atau penyakit pada jalan makanan/pencernaan. Penyakit Gastrointestinal yang termasuk yaitu kelainan penyakit kerongkongan (eshopagus), lambung (gaster), usus halus (intestinum), usus besar (colon), hati (liver), saluran empedu (traktus biliaris) dan pankreas (Sujono Hadi, 2002).
Pencernaan makanan ialah suatu proses biokimia yang bertujuan mengolah makanan yang dimakan menjadi zat-zat yang mudah dapat diserap oleh selaput-selaput lendir usus, bilamana zat-zat tersebut diperlukan oleh badan(Sujono Hadi, 2002)

B.     Klasifikasi
Menurut Linda Chandranata (2000) Klasifikasi gastrointestinal dibagi menjadi dua yaitu Gastrointestinal atas seperti gangguan nafsu makan, mual muntah dan Gastronitestinal bawah yaitu konstipasi, diare. Penyakit gangguan gastrointestinal yang termasuk yaitu Gangguan esofagus, gangguan lambung dan usus, neoplasma intestinal dan proses inflamasi, trauma abdomen, gangguan hepatik dan billiaris. Berikut adalah macam-macam penyakit gastrointestinal :
1.      KOLESISTITIS
a.       Definisi
Kolesititis adalah suatu keadaan dimana mukosa dan jaringan otot polos kandung empedu diganti jaringan ikat, sehingga kemampuan untuk memekatkan empedu hilang. Disebabkan oleh kolesistitis akut berulang-ulang. Gambaran klinik keadaan akut yaitu nyeri perut kanan atas, kolik bilier atau hanya rasa tidak enak di epigastrium. Terdapat demam ringan dan hiperbilirubinemia ringan.

b.      Patofisiologi
Kolestitis merupakan inflamasi kandung empedu, paling sering disebabakan oleh penumpukan getah empedu di dalam kandung empedu duktus sistikus tersumbat oleh batu empedu. Faktor resiko yang sering ditemukan (sekalipun tidak eksklusif) dikenal sebagai empat F: famale(warna), forties(berusia empat puluhan), fat(gemuk) dan  fertile (subur)
Kandung empedu menyimpan getah yang diproduksi oleh hati sebelum getah tersebut digunakan di dalam usus. Getah empedu dibentuk dari kolesterol dan dipekatkan di dalam kandung empedu. Kadang terjadi pengendapan kolesterol yang membentuk kristal dan batu empedu. Proses ini dapat terjadi jika getah empedu terlalu pekat atau bila terdapat pasokan kolesterol yang berlebih. Pembentukan batu empedu merupakan proses yang berjalan lambat. Diperlukan waktu sekitar delapan tahun sejak awal terbentuknya batu hingga awitan gejala, dan empat tahun lagi sebelum tindakan kolesistektomi.
c.       Manifestasi klinis
Umumnya pasien mengalami nyeri intens secara mendadak pada kuadran kanan atas abdomen. Serangan nyeri bersifat hilang-timbul dan terjadi sesudah makan-makanan berlemak; biasanya nyeri semakin terasa ketika pasien menarik nafas dalam. Nyeri abdomen secara khas menyebar ke bahu kanan dan skapula. Tanda Murphy juga sering ditemukan pada kolesistitis. Tanda Murphy ditandai oleh perbuatan menahan napas sebagai respons terhadap rasa nyeri ketika abdomen pasien dipalpasi pada daerah subkostan kanan.
d.      Uji diagnostik
Pada hasil pemeriksaan darah pasien akan ditemukan kenaikan kadar bilirubin dan hasilnya uji fungsi hati. Jumlah sel darah putih dapat meningkatkan. Pemeriksaan USG abdomen, pemindaian CT, dan kolangiografi (pemeriksaan dengan kontras dan sinar X) dapat dilakukan untuk menegakan diagnosis kolesistitis. Pemeriksaan USG abdomen merupakan teknik yang paling tidak invasif di antara ketiga pemeriksaan tersebut dan dapat dilakukan di sisi ranjang.
e.       Penanganan kolesititis
Awalnya, terapi dimulai dengan pemasangan infus untuk memperbaiki atau mencegah dehidrasi; preparat analgesik diberikan untuk meredakan nyeri, biasanya berupa morfin. Pasien dipuasakan dahulu. Tindakan bedah biasa dilakukan dan berupa pengangkatan kandung empedu. Tindakan ini dinamakan kolesistektomi dan dapat dilakukan secara laparoskopik atau melalui laparotomi. Pembedahan laparoskopik merupakan tindakan yang lebih aman, tidak menyebabkan nyeri yang berlebihan, dan tindakan kolesistektomi yang lebih disukai. Dahulu pembedahan baru dilakukan beberapa minggu kemudian;namun sekarang sebagain besar dokter menganjurkan pembedahan sejak dini.
2.      SIROSIS
a.       Definisi
Sirosis adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatic yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regenerativ.
Penyakit hati kronis ini dicirikan dengan destorsi arsitektur hati yang normal oleh lembar-lembar jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan vaskulatur normal.

b.      Patofisiologi
Sirosis merupakan kerusakan pada hati dengan pembentukan nodul kecil yang dikelilingi oleh jaringan fibrotik. Keadaan ini terjadi di seluruh hati. Nodul dan jaringan fibrotik menyabkan kemunduran fungsi hati yang ireversibel. Penyalahgunaan alkohol kronis merupakan penyebab sirosis yang peling sering ditemukan.
Perubahan struktur mikroskopik hati pada sirosis menyebabkan banyak komplikasi. Semua fungsi hati, termasuk fungsi menyaring darah yang masuk dari usus halus dan produksi albumin serta produk pembekuan darah akan menurun. Nodul kecil dan setrip jaringan ikat yang terbentuk berulang kali membuat hati membuat hati yang awalnya lunak seperti spons menjadi keras. Jika hati menjadi terlalu padat sehingga darah tidak dapat mengalir ke dalam hati, akan terjadi tekanan balik. Keadaan ini menyebabkan distensi pembuluh vena yang mengalir ke dalam hati dari usus. Distensi ini dinamakan hipertensi portal dan menyebabkan terbentukanya varises serta aliran darah kolateral. Varises esofagus cenderung mengalami perdarahan masif dan perdarahan ini kerapkali ditemukan sebagai hemaremesis.
c.       Menifestasi klinis
Penyakit sirosis memiliki periode laten yang lama karena pernurunan efisiensi kerja hati berlangsung secara perlahan-lahan. Asites (penumpukan cairan kaya protein di dalam peritoneum sebagai akibat dari obstruksi sirkulasi portal) dan ikterus (perubahan warna kulit dan sklera menjadi kuning-kehijauan sebagai akibat dari kenaikan kadar bilirubin yang mencerminkan kemunduran fungsi hati) merupakan manifestasi yang lazim dijumpai. Hematemesis hebat dapat pula terjadi. Kelemahan yang menyeluruh dan penurunan berat badan sering terlihat. Pada akhirnya, dapat terjadi gagal hati total yang menimbulkan koma dan kematian. Keadaan ini diyakini disebabkan oleh kadar amonia yang tertinggi di dalam darah. Karena hati umumnya menguraikan amonia, kadar amonia yang tertinggi pada gagal hati total akan menyebabkan ensefalopati hepatik.
d.      Uji diagnostik
Pada awalnya, uji fungsi hati mungkin memeperlihatkan hasil yang normal. Penurunan kadar albumin dan peningkatan waktu protro,bin ,enunjukan fungsi hati yang memburuk. Protrombin merupakan faktor pembekuan-darah yang diproduksi oleh hati. Anemia sering terjadi padasirosis alkoholik karena alkohol secara langsung menekan produksi sel darah merah di dalam sumsum tulang belakang.
e.       Penanganan
Satu-satunya penanganan definitif untuk sirosis adalah transplantasi hati. Mayoritas intervensi dalam penatalaksanaan sirosis bersifat suportif, karena donor hati untuk transplantasi sangat jarang ditemukan. Gizi yang baik dan menghentikan kebiasaan minum alkohol membawa hasil yang cukup menngesankan. Asites biasanya dapat dikendalikan dengan pemberian obat diuretik dan diet rendah garam. Varises esofagus, yang dapat dilihat melalui endoskop, dan dapat disuntik dengan adrenalin atau diligasi dengan pita karet kecil untuk emperoleh hemostatis \. Teknik ini dikombinasikan dengan farmakoterapi intravena merupakan tindakan yang paling efektif. Pemasangan pirau intravena jarang dilakukan karena tindakan ini menimbulkan angka mortalitas antara 40 dan 100%. Pirau dipasang dari hati ke vena kava inferior untuk mengurangi tekanan dari pembuluh vena yang mengalami distensi. Kadang-kadang dipasang tamponade balon(slang nasogastrik khusus dengan komponen balon yang bisa dikembangkan). Balon tersebut memberikan tekanan langsung pada varises yang berdarah. Jenis slang nasogastrik ini disebut sebagai salah saru dari tiga nama berikut: slang sengstaken Blakemore, slang Linton, atau slang Minnesota. Secara khas, pemasangan slang ini merupakan tindakan yang menjadi penghubung menuju asuhan medis yang lebih definitif.
3.      PANKREATITIS
a.       Definisi
Pankreatitis adalah suatu organ yang tidak biasa karena berfungsi sebagai kelenjar endokrin dan eksokrin. Gangguan endokrin yang utama adalah diabetes. Produk eksokrin pankreas berupa enzim kuat, yang dalam keadaan normal mencerna protein, lemak, dan karbohidrat dalam makan yang teringesti. Tetapi enzim-enzim kuat yang sangat efektif pada pencernaan dalam lumen usus halus, juga berperan sebagai sumber bahaya yang besar terhada organ itu sendiri, bila mereka diaktifkan dalam pankreas itu sendiri. Teori autodigesti mengesankan bahwa inilah yang sebenarnya terjadi pada pankreatitis.
Pankreatitis merupakan reaksi peradangan pankreas yang ditandai dengan nyeri perut disertai dengan kenaikan enzim dalam darah dan urin.

b.      PATOFISIOLOGI
Pankreatitis merupakan inflamasi pankreas yang dapat bersifat akut atau kronis.Kasus pankreas dapat berkisar dari ringan hingga berat.Pada kasus yang berat,nekrosis dan perdarahan pankreas dapat menyebabkan syok hipovolemik dan kematian pasien.
Pankreatitis akut diyakini terjadi karena autodigesti pankreas oleh enzimnya.Pankreas biasanya terlindungi dari autodigesti karena organ ini menghasilkan enzim pencernaan yang tidak aktif.Enzim pankreas menjadi aktif ketika mencapai usus halus.Pada pankreatitis,organ pankreas menghasilkan enzim aktif sehingga merusak pankreas.Ada beberapa teori yang mengemukakan bagaimana proses iritasi pankreatik dimulai,dan sebagian besar teori tersebut berputar disekitar penyumbatan saluran empedu atau pengaktifan enzim pankreas yang pematur.Penyebab utama prankreatitis adalah alkoholisme dan batu empedu yang menyebabkan sekitar  tujuh puluh persen kasus.Penyebab lain meliputi obat,toksin,trauma abdomen,infeksi,dan pembedahan pada pankrean atau organ didekatnya.
c.       MANIFESTASI
Secara klasik pasien pankreatitis mengalami nyeri abdomen yang menetap dan berat.Mual dan muntah yang tidak dapat diredakan merupakan gejala yang sering ditemukan.Kedua gejala ini dapat cukup berat sehingga terjadi dehidrasi.Gejala ini meliputi demam,distres pernapasan,dan takikardia.
d.      UJI DIAGNOSTIK
Biasanya terdapat  kenaikan kadar amilase serum.Kadar kalsium serum sering rendah.Pemeriksaan radiologi,seperti USG abdomen,pemindaian CT,dan MRI akan memperlihatkan struktur pankreas dan memberi bukti tentang keparahan penyakit dengan menunjukan gambaran edema,batu empedu,nekrosis,atau perdarahan.
e.       PENANGANAN
Penanganan pankreatitis,terutama bersifat suportif dan meliputi terapi analgesial,hidrasi,nutrisi dan supresi sekresi pankreas.Slang nasogastrik dipasang jika terdapat muntah hebat dan pasien dipuaskan.Nutrisi parenteral total harus dimulai karena puasa dapat berlangsung selama dua hingga tiga minggu.Puasa merupakan upaya untuk mengistirahatkan pankreas dengan mengurangi beban kerja usus.Penggunaan terapi antibiotik tidak didukung oleh hasil riset,kecuali jika terdapat infeksi spesifik yang dipastikan lewat kultur darah.Pembedahan dapat dipertimbangkan bila terjadi kerusakan yang luas pada pankreas.

4.      HEPATITIS
a.       Definisi
Hepatitis adalah peradangan pada hati (liver) yang disebabkan oleh virus. Virus hepatitis termasuk virus hepatotropik yang dapat mengakibatkan hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), delta hepatitis (HDV), hepatitis E (HEV), hepatitis F dan hepatitis G.
Hepatitis dibagi 2 tahapan :
1.      Hepatitis akut: infeksi virus sistemik yang berlangsung selama <6 bulan.
2.      Hepatitis kronis : gangguan-gangguan yang terjadi >6bulan dan kelanjutan dari hepatitis akut.
3.      Hepatitis fulminant adalah perkembangan mulai dari timbulnya hepatitis hingga kegagalan hati dalam waktu kurang dari 4 minggu oleh karena itu hanya terjadi pada bentuk akut.

b.      PATOFISIOLOGI
Hepatitis atau inflamasi hati dapat disebabkan oleh virus atau non-virus.Penyebab non-virus meliputi obat dan zat kimia,selain penyebab imun dan metabolik.Kendati demikian,kebanyakan kasus hepatitis disebabkan oleh virus,yang meliputi virus hepatitis A,B,C,D,E, dan G.
Invasi virus pada sel hati menyebabkan inflamasi.Virus menimbulkan kerusakan,tetapi tidak membunuh sel hati.Cedera yang terjadi menyebabkan pembengkakan dan penurunan fungsi hati.Jika kerusakan berkelanjut (menjadi kronis),akan terjadi jaringan parut atau fibrosis.Fibrosis disebabkan oleh pembentukan serabut kolagen ketika hati berupaya memperbaiki dirinya sendiri.Apabila fibrosis meluas,keadaan ini dinamakan sirosis.Fibrosis bersifat permanen dan demikian pula kerusakan hati.Hepatitis B,C,D, dan G ditularkan melalui darah sedangkan hepatitis A dan E menyebar melalui makanan serta air yang telah berkontraminasi virus tersebut.

c.       MANISFESTASI KLINIS
Semua infeksi hepatitis virus memiliki gejala yang sama kendati terdapat perbedaan pada keparahan gejala dan kemungkinan infeksi menimbulkan cedera hati yang kronis.Tanda dan gejala hepatitis virus meliputi anoreksia,mual,muntah,demam,ikterus,melaise,dan nyeri otot.
Hepatitis B,C,dan D memiliki gejala yang lebih berat dan berlangsung lebih lama.Hepatitis B merupakan bentuk hepatitis yang paling sering ditemukan.Sebagia besar pasien sembuh total dari hepatitis B dan hanya 5-10 persen harus yang memburuk menjadi gagal hati kronis.Pada pasien hepatitis C,hanya 30-40 persen pasien terinfeksi yang memperlihatkan gejala .Namun, mayoritas pasien hepatitis C akan mengalami perburukan sehingga timbul penyakit hati kronis dalam derajat tertentu.Hepatitis D memiliki cara penularan yang tidak lazim.Individu harus terinfeksi dengan virus hepatitis B dahulu,kemudian dapat terinfeksi hepatitis D.Ini merupakan bentuk hepatitis yang lebih serius.Tidak banyak yang diketahui tentang hepatitis G, kecuali infeksi hepatitis G diyakini menular lewat darah.
Gejala hepatitis A dan E serupa dengan gejala influenza ringan yang sering berlangsung kurang dari dua minggu.Infeksi,terutama terjadi melalui makanan dan minuman yang berkontaminasi.Akan tetapi,hepatitis E mengenai ibu hamil dengan cara yang lebih serius karena menimbulkan kematian pada satu dari lima kasus.

d.      UJI DIAGNOSTIK
Pemeriksaan darah akan memberikan hasil positif untuk antibodi IgM pada setiap jenis hepatitis.

e.       PENANGANAN
Penanganan hepatitis akut,terutama bersifat suportif,dengan farmakoterapi terutama yang tersedia untuk hepatitis B dan C.Tidak ada penanganan khusus untuk hepatitis A,E,D,atau G.Sejumlah bukti menunjukan preparat herbal yang dinamakan milk thistle (silybum marianum)  memiliki khasiat  ‘’hepatoprotektif,anti-inflamasi,dan regeneratif sehingga memberi efek menguntungkan bagi beberapa jenis hepatitis’’ Kendati hasil riset tidak menunjukan bukti yang kuat.Penyakit hati kronis,seperti hepatitis merupakan penyebab terserig karsinoma hepatoselular.Pada kelompok pasien ini,penanganan yang harus terus dilaksanakan meliputi skrining (pemindaian CT) secara teratur untuk deteksi tumor hati.

5.      APENDISITIS
a.       Definisi
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Usus buntu sebenarnya sekum (cecum). Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Kalsifikasi apendisitis terbagi atas 3 yakni :
1.      Apendisitis akut radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsangan peritonium local.
2.      Apendisitis rekurens.
3.      Apendisitis kronis.

b.      PATOFISIOLOGI
Berdasarkan definisi,apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermifornis.Karena struktur yang berpuntir,apendiks merupakan tempat ideal bagi bakteri untuk berkumpul dan multiplikasi.Apendisitis dapat terjadi pada segala usia kendali lebih sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda.
Kemungkinan penyebab apendisitas meliputi obstruksi lumen apendiks oleh  faecalith (massa feses yang keras),batu,benda asing,tumor,atau edema ; pelekukan apendiks;pembengkakan dinding usus;dan oklusi eksternal usus oleh pelekatan.Terlepas dari penyebabnya,ketika apendiks tersumbat,tekanan didalam lumen meningkat.Keadaan ini mengganggu suplai darah sehingga terjadi inflamasi,edema,nekrosis,gangren,atau perforasi.

c.       UJI DIAGNOSTIK
Diagnosis apendisitas dibuat,terutama berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik pasien.Namun,hasil pemeriksaan laboratorium akan membantu menegakkan diagnosis yang benar.Hasil abnormal meliputi kenaikan jumlah sel darah putih dan protein C-reatif kendati kedua hasil pemeriksaan ini tidak khas hanya pada apendisitis.Sinar X dan USG abdomen dapat mengungkapkan kepadatan pada abdomen kuadran kanan bawah atau distensi lokal pada usus kendati hasil radiografi yang negatif tidak boleh digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis apendisitas.

6.      PENYAKIT ULKUS PEPTIKUM
a.       Definisi
Ulkus peptikum atau tukak lambung adalah penyakit pada lapisan lambung atau duodenum, bagian pertama dari usus kecil Anda. Sakit perut seperti terbakar adalah gejala yang paling umum. Rasa sakit dapat datang dan pergi untuk beberapa hari atau minggu. Anda lebih sering merasakannya ketika perut kosong dan biasanya hilang setelah Anda makan.
Ulkus peptikum terjadi ketika asam yang membantu pencernaan makanan merusak dinding lambung atau duodenum. Penyebab paling umum adalah infeksi bakteri yang disebut Helicobacter pylori. Penyebab lainnya adalah penggunaan jangka panjang obat anti-inflamasi obat (NSAID) seperti aspirin dan ibuprofen. Stres dan makanan pedas tidak menyebabkan ulkus, tetapi dapat memperburuk kondisinya.

b.      PATOFISIOLOGI
Penyakit uklus peptikum mengacu kepada ulserasi yang dapat terjadi pada lambung,pilorus,duodenum,atau esofagus.Faktor risiko yang dicurigai ,tetapi belum terbukti untuk terjadinya ulserasi peptik meliputi stres ,riwayat keluarga, dan individu dengan golongan darah O.
Kendati demikian,bakteri gram-negatif helicobacter pylori (H.pylon) merupakan faktor penyebab primer pada mayoritas kasus ulkus peptikum.Bakteri ini ditemukan pada tujuh puluh persen pasien ulkus lambung dan sembilan puluh lima persen pada pasien ilkus duodenum.Ulkus peptikum ,terutama terjadi pada mukosa gastroduodenal karena jaringan ini tidak dapat menahan kerja digestif asam lambung dan pepsin.Ulserasi yang terjadi dapat disebabkan oleh sekresi asam,penguraian dinding epitel pelindung ,atau sekresi mukus yang tidak adekuat.

c.       UJI DIAGNOSTIK
Karena H.pylori merupakan agens,penyebab yang sering ditemukan pada penyakit ulkus peptikum,pasien harus menjalani pemeriksaan untuk memeriksa keadaan bakteri ini.Pemeriksaan dapat dilakukan melalui uji pernapasan,pengukuran kadar antibodi,biopsi,atau identifikasi organisme secara langsung melaui pemeriksaan kultur .Uji lain yang terbukti berguna untuk mendiagnosis ulkus peptikum meliputi pemeriksaan barium atau saluran cerna atas dan endoskopi .Gastroskopi memungkinkan pengambilan sampel jaringan untuk biopsi.Hitung darah lengkap dapat memperlihatkan anemia yang terjadi sekunder karena perdarahan ulkus.
7.      PENYAKIT CROHN
a.       Definisi
Crohn’s Disease atau penyakit Crohn adalah salah satu penyakit radang usus dan merupakan kondisi jangka panjang yang mana peradangan bisa terjadi pada seluruh lapisan dinding sistem pencernaan, mulai dari mulut hingga ke anus. Tapi kondisi ini lebih sering  terjadi pada bagian akhir usus kecil (ileum) atau usus besar.
Kondisi ini bisa terasa menyakitkan, membuat tubuh merasa lemah, dan terkadang bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa penderita.
Penderita penyakit Crohn memiliki masa remisi yang mana tidak timbul gejala apa pun atau hanya mengalami gejala-gejala ringan. Masa remisi ini akan diikuti masa kambuhan dan terkadang menyulitkan penderitanya.

b.      PATOFISIOLOGI
Penyakit crohn yang juga dikenal dengan nama enteritis regional merupakan kelainan inflamasi yang kronis dan kambuh pada usus. Penyakit crohn merupakan salah satu dari dua penyakit yang tergolong dalam kelompok “penyakit inflamasi usus”, penyakit lainnya adalah kolitis ulseratif. Penyakit tersebut dapat terjadi pada segala usia kendati paling sering ditemukan pada usia antara 15 dan 30 tahun. Setiap bagian saluran usus, mulai dari mulut hingga anus, dapat terkena penyakit crohn, tetapi penyakit crohn, tetapi lokasi yang paling serig terkena adalah ileum terminalis.Penyebab spesifik penyakit crohn tidak diketahui.
Penyakit crohn dimulai dengan lesi inflamasi yang kecil;lesi ini dapat mengalami regresi atau progresi hingga mengenai semua lapisan dinding usus.Penebalan dinding usus terjadi selain penyempitan lumen dengan pembentukan striktur.Komplikasi lokal penyakit ini meliputi malabsorpsi,obstruksi,fistula,abses,dan fisura ani.

c.       UJI DIAGNOSTIK
Diagnostik penyakit inflamasi usus bergantung pada riwayat klinis,hasil pemeriksaan fisik,dan gambaran endoskopi,radiologi serta histologi,juga hasil pemeriksaan laboratorium.Meskipun uji laboratorium bukan alat diagnostik yang definitif untuk menegakkan diagnosis penyakit crohn,ada sejumlah kelainan yang harus kita cari.Kelainan ini meliputi kenaikan sel darah putih ,laju rendah darah ,serta protein c-reatif;dan penurunan kadar albumin serum,feritin,kalsium,zink,serta magnesium.Anemia dapat juga terjadi karena defisiensi zat besi,vitamin B ,atau folat.

8.      KOLITIS ULSERATIVA
a.       Definisi
Kolitis ulseratif adalah inflamasi yang terjadi pada usus besar atau kolon dan rektum. Ini merupakan penyakit kronis yang akan memicu munculnya tukak-tukak pada dinding usus besar sehingga menyebabkan keluarnya tinja yang disertai darah.
Semua orang memiliki kemungkinan untuk mengalami kolitis ulseratif. Tetapi kondisi ini lebih sering terjadi pada orang yang berusia di bawah 30 tahun.

b.      Patofisiologi
Kolitis ulseratif merupakan penyakit inflamasi usus yang kronis dan hanya mengenai mukosa dan submukosa kolon.Penyebab spesifik penyakit tersebut tidak diketahui ,tetapi dikemukakan sejumlah teori untuk menjelaskan penyebabnya.Teori ini meliputi infeksi bakteri ,reaksi alergi,perubahan imunitas atau autoimunitas,faktor lingkungan (mis, merokok ) dan diet.
Mukosa yang terkena tampak mengalami edema dan hiperimea ,dengan terbentuknya abses multipel yang akhirnya menjadi ulkus.Implamasi ,penebalan ,dan kongesti usus juga terjadi.Ulserasi menghancurkan epitel mukosa,yang menyebabkan perdarahan dan diare.Komplikasi penyakit pada usus meliputi perdarahan ,striktur,perforasi,megakolon toksik,kanker,dan dilatasikolon.Komplikasi ekstra-intestinal meliputi malabsorpsi,batu ginjal ,batu empedu,penyakit hati,dan ulkus peptikum.

c.       UJI DIAGNOSTIK
Penegakan diagnosis kolitis ulserativa merupakan sebuah tantangan karena kesamaan yang dimiliki dengan penyakit Crohn .Pada pemeriksaan klinis tidak ditemukan tanda-tanda yang khas tetapi inflamasi mukosa rektum dapat dilihat pada endoskopi.Jika pasien mengalami diare ,diperkirakan akan terjadi hipokalemia.Hipoalbuminemia dapat pula terjadi karena kehilangan protein akibat kerusakan mukosa lambung atau malnutrisi yang disebabkan oleh inflamasi sistemik.


C.     Patofisiologi
Proses pencernaan mulai dengan aktivitas mengunyah dimana makanan dipecah kedalam partikel kecil yang dapat ditelan dan dicampur dengan enzim-enzim pencernaan. Makan, atau bahkan melihat, mencium, atau mencicip makanan dapat menyebabkan refleks salivasi. Saliva adalah sekresi pertama yang kontak dengan makanan. Saliva disekresi dalam mulut melalui kelenjar saliva pada kecepatan kira-kira 1,5 L setiap hari. Saliva juga mengandung mukus yang membantu melumasi makanan saat dikunyah, sehingga memudahkan menelan. Dua pusat dalam inti retikularis medula oblongata adalah zona pencetus kemoreseptif yaitu uremia, emesis yang diinduksi oleh obat, emesis karena radiasi dan pusat yang terintegrasi. Jaras eferen muncul dari hampir semua tempat tubuh. Jaras vagal adalah sangat penting, tetapi vagotomi tidak menghilangkan muntah . jaras eferen empatik yang memperantarai muntah berkaitan dengan distensi abdomen.
Muntah terjadi bila kedua jaras eferen somatik dan viseral menyebabkan penutupan glotis, kontraksi diagfragma mempunyai pilorus dan relaksi lambung diikuti oleh kontraksi peristaltik yang berjalan dari lambung tengah keujung insisura dengan kontraksi abdmen, diagfragma, dan interkosta, muntah berkaitan dengan tanda dan gejala cetusan otonom. Seamua ada kaitan dengan gangguan traktus gastrointestinalis, terutama obstruksi, dengan obstruksi tinngi akut menyebabkan muntah dini. Kekacauan otonom, obat-obatan gangguan psikogenik, dan penelanan bahan-bahan yang berbahaya merupakan menyebab lain yang sering.
Faktor-faktor yang mengurangi pasokan darah dan penghantar oksigen ke medula (renjatan, oklusi vaskular, peningkatan tekanan intrakranial). Dapat menginduksi emesis. Obat-obat emetik menghasilkan efeknya melalui stimulasi sentral langsung atau dengan iritasi mukosa lambung. Pola muntah mendadak, sering kali proyektil tanpa didahului mual, sangat kuat menunjukkan penyebab sentral. Konsekuensi muntah metabolik, dengan muntah hebat terjadi hipovolemia, hipokalemia, dan alkalosis metabolik serta deplesi natrium total.( Linda Chandranata, 2000)

D.     Manifestasi Klinis
Menurut Linda Chandranata (2000), manifestasi klinis gastrointestinal yaitu:
a.       Keluhan pada mulut, bau mulut yang tidak sedap, atau rasa tidak enak atau rasa pahit pada mulut, rasa tidak enak pada mulut yang menetap biasanya disebabkan karena keluhan psikhis.
b.      Anoreksia, keluhan nafsu makan menurun dapat ditemukan pada semua penyakit, termasuk juga penyakit saluran makan.
c.       Disfagia, merupakan keluhan yang disebabkan kelainan pada esofagus, yaitu timbulnya kesulitan pada waktu menelan makanan atau cairan. Kesulitan menelan terjadi baik pada bentuk makanan padat maupun cairan, terutama bila terjadi refluks nasa, berarti adanya kelainan saraf (neuromuscular disorder). Kesulitan meneruskan makanan dari mulut kedalam lambung biasanya disebabkan oleh kelainan dalam tenggorokan biasanya infeksi atau tumor di oropharynx, larynx, spasme dari oto cricopharynx. Rasa terhentinya makanan didaerah retrosternal setelah menelan makanan, biasanya disebabkan kelainan dalam esofagus sendiri, yaitu timbulnya regurgitasi, refluks asam, rasa nyeri didada yang intermiten, misalnya pada akhalasia, karsinoma esofagus, spasme yang difus pada esofagus.

d.      Nausea, beberapa rangsangan yang dapat menimbulkan rasa mual, rasa mual diantaranya adalah: rasa nyeri dalam perut, rangsangan labirin, daya ingat yang tak menyenangkan.
e.       Vomitus, timbulnya muntah-muntah sebagai akibat karena kontraksi yang kuat dari antrum dan pilorus dan timbulnya anti peristaltik yang kuat pada antrum dengan disertai relaksasi dari otot-otot spinghter kardia, disusul melebarnya esofagus dan menutupnya glotis.
f.       Nyeri tekan, kekakuan, demam, massa yang dapat diraba, bising usus berubah, perdarahan gastrointestinal, defisit nutrisional, ikterus dan tanda disfungsi hepar.

E.      Komplikasi
Menurut Linda Chandranata (2000)komplikasi dari gastrointestinal adalah:
a.       Kanker esofagus, meliputi disfagia,tidak bisa makan dan perasaan penuh di perut adalah tidak jelas dan dapat dihubungkan dengan beberapa kondisi lain. Gejala-gejala ini dapat dengan mudah dihubungkan dengan konsumsi tipe makanan tertentu (pedas, gorengan, dll)
b.      Kanker lambung, rasa tidak nyaman epigastrik, tidak bisa makan dan perasaan gembung setelah makan.. ini adalah gejala semu yang dengan mud ah dikaitkan dengan kegagalan lambung.
c.       Kanker pankreas, penurunan barat badan, ikterik dan nyeri daerah punggung atau epigastrik adalah triad gejala yang umum.
d.      Kanker hepar, nyeri abdomen yang sangat sakit , tumpul, dan pada kuadran atas kanan, nyeri bersifat terus menerus, mengganggu tidur dan bertambah sakit saat posisi tidur miring kekanan dan mungkin menyebar keskapula kanan.
e.       Kanker kolorektal, perubahan dalam defekasi, darah pada feses, konstipasi, perubahan dalam penampilan fesestenesmus, anemia, dan perdarahan rektal merupakan keluhan utama yang mungkin mengindikasikan adanya kanker kolorektal.

F.      Penatalaksanaan
Menurut Linda Chandranata (2000), penatalaksanaan penyakit gastrointestinal yaitu:
a.       Pemeriksaan saluran Gastrointestinal atas, seri gastrointestinal atas memungkinkan pemeriksa untuk mendeteksi atau melihat adanya ketidakdaruratan anatomi atau fungsi organ gastrointestinal atas atau sfingter, ini juga membantu dalam mendiagnosis ulkus, varises, tumor, enteritis regional, dan sindrom malabsorbsi.
b.      Pemeriksaan saluran gastrointestinal bawah, untuk mendeteksi adanya polip, tumor, dan lesi lain dari usus besar serta untuk mendemontrasikan adanya anatomi abnormal atau malfungsi dari usus.
c.       Pembedahan.



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A.       Diagnosa
1.      Nutrisi, Perubahan: kurang dari kebutuhan tubuh
2.      Nyeri Akut
3.      Gangguan mobilitas fisik b.d kelemahan fisik dan penurunan energi metabolik
4.      Hambatan mobilitas fisik
DIAGNOSA
INTERVENSI
RASIONAL
Nutrisi, Perubahan: kurang dari kebutuhan tubuh
Mandiri
Kaji abdomen, catat adanya/karakter bising usus, distensi abdomen, dan keluhan mual.
Distensi abdomen dan atoni usus sering terjadi, mengakibatkan penurunan/tak danya bising usus. Kembalienghentian aspirasi gaster.

Berikan perwatan oral.
Menurunkan rangsangan muntah dan inflamasi/iritasi membran mukosa kering sehubungan dengan dehidrasi dan bernafas dengan mulut bila NG dipasang.

Bantu pasien dalam pemilihan makanan/cairan yang memenuhi takebutuhan nutrisi dan pembatasan bila diet dimulai.
Kebiasaan diet sebelumnya mungkin tidak memuaskan pada pemenuhan kebutuhan saat ini untuk regenerasi jaringan dan penyembuhan. Penggunaan stimulus gaster, contoh kafein, alkohol, sigaret, makanan penghasil gas, atau makan terlalu banyak dapat mengakibatkan rangsangan berlebihan pada pankreas  /berulangnya gejala.

Observasi warna/konsistensi/jumlah feses. Catat konsistensi lembek/bau busuk.
Steatorea terjadi karena pencernaan lemak tak sempurna.

Catat tanda peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental dan ketajaman visual.
Mewaspadakan terjadinya hiperglikemia karena peningkatan pengeluaran glukagon (kerusakan sel alfa) atau penurunan pengeluaran insulin (kerusakan sel beta).

Tes urine untuk gula aseton.
Deteksi dini pada penggunaan glukosa  tak adekuat dapat mencegah terjadinya kedoasitosis.

Kolaborasi
Pertahankan status puasa dan penghisapan gaster pad afase akut.
Mencegah rangsangan dan pengeluaran enzim pankreas (sekretin) bila kimus dan asam HCL masuk ke duodenum.

Awasi glukosa serum.
Indikator kebutuhan insulin karena hiperglikemia sering terjadi meskipun tidak selalu pada kadar cukup tinggi untuk menghasilkan ketoasidosis.

Berikan hiperlamentasi dan lipid, bila diindikasikan.
Pemberian IV kalori, lipid, dan asam amino harus diberikan seelum penurunan nutris/nitrogen memburuk.

Mulai pemasukan oral dengan cairan bening dan diet lanjut secara perlahan unntuk memberikan diet tinggi protein, tinggi karbohidrat bila diindikasi.
Pemberian makan oral terlalu dini pada penyakit berat dapat mengeksaserbasi gejala. Kehilangan fungsi fankreas/ penurunan produksi insulin memerlukan diet diabetik

Berikan trigliserida rantai sedang (contoh MCT, Portagen)
MCT memberikan kalori/nutrien tambahan yang tidak memerlukan enzim fankreas untuk pencernaan absorpsi.

Berikan hiperalimintasi dan lipid ,bila di indikasikan .
Berikan obat sesuai indikasi:
Vitamin contoh A,D,E,K;
Kebutuhan penggantian seperti metabolisme lemak terganggu,penurunan absropsi /penyimpanggan vitamin larut dalam lemak.

Penggantian enzim contoh pankreatin (viokase),fankrealipase (cotazym)
Digunakan pada pankreatitis untuk memperbaiki defisiensi untuk meningkatkan pencernaan dan absropsi nutrien .

Antikolinergik , metanhelin bromida (banthine);
Diperkirakan menurunkan sekresi fankreas dan gaster dengan penekanan mekanisme vagal dan penurunan motilitas.


Kolaborasi

Penurunan pada volume dan konsentrasi enzim memberikan istirahat untuk area yang inflamasi .catatan:obat ini kontraindikasi pada adanya syok/paralitik ileus,dan pemeriksaan obat ulang belum membuktikan efisiensi.

Insulin;
Memperbaiki hiperglikemia menetap di sebabkan oleh cedera sel  beta dan meningkatkan pengeluaran glukokortikoid .terapi insulin biasanya jangka pendek kecuali terjadi kerusakan permanen pada pankreas.
NYERI (AKUT)
Mandiri
Selidiki keluhan verbal nyeri, lihat lokasi dan intensitas khusus (skala 0 – 10). Catat faktor – faktor yang meningkatkan dan menghilangkan nyeri.
Nyeri sering menyebar, berat, dan tidak berhubungan pada pankreatitis akut atau perdarahan. Nyeri berat sering merupakan gejala utama pada pasien dengan pankreatitis kronis. Nyeri tersembunyi pada kuadran kanan atas menunjukkan keterlibatan kepala pankreas. Nyeri pada kuadran kiri atas diduga keterlibatan ekor pankreas.nyeri terlokalisir menunjukkan terjadinya pseudokista atau abses.

Pertahankan tirah baring selama serangan akut. Berikan lingkungan tenang. 
Menurunkan laju metabolik dan rangsangan /sekresi GI, sehingga menurunkan aktivitas pankreas.


Beriakn pilihan tindakan nyaman (contoh pijatan punggung),dorong teknik relaksasi(contoh bimbingan imajinasi,visualisasi);aktivitas hiburan (contoh TV,radio).
Meningkatkan relaksasi dan memampukan pasien untuk memfokuskan perhatian;dapat meningkatkan koping .



5.        

Pertahankaan lingkungan bebas makanan berbau .
Rangsangan sensori dapat mengaktifkan enzim pankreas,meningkatkan nyeri.

berikan analgesik pada waktu yang tepat (lebih kecil ,dosis lebih ringan)
Nyeri berat/lama dapat meningkatkan syok dan lebih sulit hilang,memerlukan dosis obat lebih besar . yang dapat mendasari masalah/komplikasi dan dapat memperberat depresi pernafasan.

Pertahankan perawatan kulit;khususnya pada adanya aliran cairan dari fistula dinding abdomen
Enzim pankreas dapat mencerna kulit dan jaringan dinding abdomen, menimbulkan luka bakar kimiawi

Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi:
Analgesik narkotik,contoh meperidin (demerol).
Meperidin biasanya pada penghilangan nyeri dan lebih disukai dari morfin ,yang dapat menunjukan efek samping spasme bilier-pankreas.blok faravetebral telah digunakan untuk meningkatkan kontrol nyeri lama .catatan:pasien yang mengalami episode pankreatitis berulang atau kronis mungkin sulit untuk menangani karena mereka menjadi aditip terhadap pemberian narkotik untuk mengontrol nyeri

Sedatip,contoh diazepam (valium);antis pasmodik,contoh atropin.
Mempunyai potensi kerja narkotik untuk meningkatkan istirahat dan menurunkan spasme otot/duktus,sehingga menurunkan kebutuhan metaboloik,sekresi enzim.

Antasida contoh Mylanta,maalox,amphogel,riopan;
Menetralisir asam gaster untuk menurunkan produksi enzim pankreas dan menurunkan insiden perdarahan GI atas.

Simetidin (tagamet );ranitidin(zantac ).
Penurunan sekresi HCI menurunkan rangsangan pankreas dan nyeri karenanya

Tidak memberikan makanan dan cairan sesuai indikasi .
Membatasi/menurunkan pengeluaran enzim pankreas dan  nyeri.

Pertahankan penghisapan gaster,bila menggunakan .
Mencegah akumulasi sekresi enzim ,yang dapat merangsang aktivitas enzim pankreas.

Siapkan untuk intervensi bedah bila di indikasikan
Bedah eksprolasi mungkin diperlukan pada adanya nyeri /komplikasi yang tak hilang pada traktus bilier .
Gangguan mobilitas fisik b.d kelemahan fisik dan penurunan energi metabolik
Promosi mekanika tubuh: memfasilitasi penggunaan postur dan pergerakan dalam aktivitas sehari-hari untuk mencegah keletihan dan ketegangan atau cedera muskuloskeletal.


Promosi latihan fisik: Latihan Kekuatan: memfasilitasi pelatihan otot resistif secara rutin untuk mempertahankan atau meningkatkan kekuatan otot.


Terapi Latihan Fisik: Ambulasi: meningkatkan dan membantu dan berjalan untuk mempertahankan atau mengembalikan fungsi tubuh autonom dan volunter selama pengobatan dan pemulihan dari kondisi sakit atau cedera


Terapia Latihan Fisik: Keseimbangan: menggunakan aktivitas, postur, dan gerakan tertentu untuk mempertahankan, meningkatkan, atau memulihkan keseimbangan


Terapi Latihan Fisik: Mobilitas Sendi: menggunakan gerakan tubuh aktif dan pasif untuk mempertahankan atau megembalikan refleksibilitas sendi


Terapi Latihan Fisik: Pengendalian Otot: menggunakan aktivitas tertentu atau protokol latihan yag sesuai untuk menigkatkan atau mengembalikan gerakan tubuh yang terkendali


Pengaturan Posisi: mengatur posisi pasien atau bagian tubuh pasien secara hati-hati untuk meningkatkan kesejahteraan fisiologis dan psikologis


Pengaturan Posisi: Kursi Roda: mengatur posisi pasien dengan benar dikursi roda pilihan untuk mencapai rasa nyaman, meningkatkan integritas kulit, dan membutuhkan kemandirian pasien


Bantuan Perawatan-Diri: Berpindahlah: membantu individu untuk mengubah posisi tubuhnya

Hambatan mobilitas fisik
Lakukan latihan ROM untuk sendi jika tidak merupakan kontra indikasi, minimal 1x setiap penggantian tugas jaga. Tingkatkan dari pasif ke aktif sesuai tolernsi.
Tindakan ini mencegah kontrktur sendi dan atofi

Miringkan dan atur posisi pasien setiap 2jam pada saat pasien ditempat tidur. Tentukan jadwal memiringkan badaan untuk pasien yang kebergantungan; posisikan pada sisi tempat tidur dan pantau frekuensi memiringkan badan.
Tindakan ini mencegah keruskan kulit dengan mengurangi tekanan.

Tempatkan sendi pada posisi fungsional, gunakan gulungan gulungan prokanter sepanjang paha, gunakan sepatu karet yang ujung alasnya tinggi, letkan bantal kecil dibawah kepala. Dan sebagainya.
Tindakan tersebut mempertahankan sendi pada posisi fungsional dan mencegah defomitas muskuloskeletal.

Identifikasi tingkat fungsonal dengan menggunakan skala mobilitas fungsional. Komunikasikan tingkat keterampilan pasien pada semua staf
Untuk menunjang kontinuitas dan menjaga tingkat kemandirian yang teridentifikasi.

Beri dorongan mobilitas mandiri dengan membantu pasien menggunakan palang pertingkat dan penghalang sisi tmpat tidur, gunakan tungkai yang tidak terkena untuk menggerakan tungkai yang terkena, dan lakukan aktifitas perawatan diri tersebut sambil menyisiri rambut, emberi makan, mengganti balutan, dan sebagainya.
Tindakan ini meningkatkan tonus otot dan haga diri pasien.

Letakan barang-barang pada tempat yang mudah dijangkau lengan yang tidak terkena bila satu sisi mengalami kelemahan atau paralisis
Untuk mengingkatkan kemandirian pasien.


Pantau dan catat setiap hari semua bukti komplikasi (kontrktur, statisvena, trombus, penumonia,infeksi saluran kemih).
Pasien dengan riwayat penyakit atau disfungsi neuromuskular mungkin lebih cenderung mengalami komplikasi.

Lakukan program medis untuk mengelola/ mencegah komplikasi, heparinprofilaktik untuk trombosisvena.
Tindakan ini meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pasien

Berikan mobilisasi progresif untuk keterbatasan kondisi pasien ( mobilitas tempat tidu ke moilitas kursi sampai ke berjalan )
Untuk mempertahankan tonus otot dan mencegah komplikasi imobilitas

Rujuk ke ahli terapi fisik untuk pengembangan program mobilitas.
Untuk membantu rehabilitasi defisit muskuloskeletal

Anjurkan untuk hadir pada sesi terapi fisik dan dukung aktifitas dibangsal dengan menggunakan peralatan dan teknik yang sama. Minta perencanaan mobilitas tertulis dan gunakan sebagai referensi.
Semua anggota tim perwat kesehatan harus memberi penguatan dalam keterampilan belajar dengan cara yang sama.

Ajarkan pasien dan anggota keluarga/ teman tentang latihan ROM , pemindahan, inspeksi kulit, dan program mobilitas
Untuk membantu  mempersiapkan pemulangan pasien.

Demonstrasikan program mobilitas dan catat tanggalnya. Beri kesempatan kepada pasien dan keluarga atau teman untuk mengulangi demonstrasi program mobilitas dan  catat tanggalnya
Tindakan ini myakinkan kontinuitas perawatan dan penggunaan teknik yang tepat.

Bantu mengidentifikasi sumber-sumber untuk melakukan program mobilitas, seperti program rehabilitasi, american heart association, nasional multiple selerosis society.
Program ini membantu memnberikan pendekatan yang komprehensif terhadap rehabilitasi.


DATA
ETIOLOGI
PROBLEM
Ds:
-          Klien mengeluh perutnya terasa sakit dan perih
-          Klien mengatakan tidak nafsu makan
Do:
-          Klien tampak meringis
-          Skala nyeri berkisar 5-7

Nyeri
Ds:
-          Klien mengeluh haus dan tenggorokan kering
-          Klien mengeluh lemas
Do:
-          Klien tampak lemah
-          Mukosa mulut tampak kering
-          Turgor kulit kurang elastis
-          Volume untah banyak

Muntah
Kekurangan volume cairan
Ds:
-          Klien mengeluh tidak nafsu makan
Do:
-          BB klien menurun
-          Terjadi penurunan lingkar lengan atas
-          Klien terlihat tidak mau konsumsi makanan yang dihidangkan
Intake yang kurang
Nutrisi kurang dari kebutuhan
Ds:
-          Klien mengeluh lemas
Do:
-          Klien terlihat banyak bedrest
-          Peristaltik usus menurun
-          Keterbatasan aktiviitas
-          Klien tampak mengalami kelemahan otot
kelemahan fisik dan penurunan energi metabolik
Gangguan mobilisasi fisik

Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
Nyeri b.d

1.      Selidiki keluhan verbal nyeri, lihat lokasi dan intensitas khusus (skala 0 – 10). Catat faktor – faktor yang meningkatkan dan menghilangkan nyeri.
2.      Pertahankan tirah baring selama serangan akut. Berikan lingkungan tenang
3.      Beriakn pilihan tindakan nyaman (contoh pijatan punggung),dorong teknik relaksasi(contoh bimbingan imajinasi,visualisasi);aktivitas hiburan (contoh TV,radio).
4.      Pertahankaan lingkungan bebas makanan berbau .
5.      berikan analgesik pada waktu yang tepat (lebih kecil ,dosis lebih ringan)
6.      Pertahankan perawatan kulit;khususnya pada adanya aliran cairan dari fistula dinding abdomen
7.      Berikan obat sesuai indikasi:
Analgesik narkotik,contoh meperidin (demerol).
8.      Sedatip,contoh diazepam (valium);antis pasmodik,contoh atropin.
9.      Antasida contoh Mylanta,maalox,amphogel,riopan;
10.  Simetidin (tagamet); ranitidin(zantac ).
11.  Tidak memberikan makanan dan cairan sesuai indikasi.
12.  Pertahankan penghisapan gaster,bila menggunakan .
13.  Siapkan untuk intervensi bedah bila di indikasikan
1.      Nyeri sering menyebar, berat, dan tidak berhubungan pada pankreatitis akut atau perdarahan. Nyeri berat sering merupakan gejala utama pada pasien dengan pankreatitis kronis. Nyeri tersembunyi pada kuadran kanan atas menunjukkan keterlibatan kepala pankreas. Nyeri pada kuadran kiri atas diduga keterlibatan ekor pankreas.nyeri terlokalisir menunjukkan terjadinya pseudokista atau abses.
2.      Menurunkan laju metabolik dan rangsangan /sekresi GI, sehingga menurunkan aktivitas pankreas.
3.      Meningkatkan relaksasi dan memampukan pasien untuk memfokuskan perhatian;dapat meningkatkan koping .
4.      Rangsangan sensori dapat mengaktifkan enzim pankreas,meningkatkan nyeri.
5.      Nyeri berat/lama dapat meningkatkan syok dan lebih sulit hilang,memerlukan dosis obat lebih besar . yang dapat mendasari masalah/komplikasi dan dapat memperberat depresi pernafasan.
6.      Enzim pankreas dapat mencerna kulit dan jaringan dinding abdomen, menimbulkan luka bakar kimiawi
7.      Meperidin biasanya pada penghilangan nyeri dan lebih disukai dari morfin ,yang dapat menunjukan efek samping spasme bilier-pankreas.blok faravetebral telah digunakan untuk meningkatkan kontrol nyeri lama .catatan:pasien yang mengalami episode pankreatitis berulang atau kronis mungkin sulit untuk menangani karena mereka menjadi aditip terhadap pemberian narkotik untuk mengontrol nyeri
8.      Mempunyai potensi kerja narkotik untuk meningkatkan istirahat dan menurunkan spasme otot/duktus,sehingga menurunkan kebutuhan metaboloik,sekresi enzim.
9.      Menetralisir asam gaster untuk menurunkan produksi enzim pankreas dan menurunkan insiden perdarahan GI atas.
10.  Penurunan sekresi HCI menurunkan rangsangan pankreas dan nyeri karenanya
11.  Membatasi/menurunkan pengeluaran enzim pankreas dan  nyeri.
12.  Mencegah akumulasi sekresi enzim ,yang dapat merangsang aktivitas enzim pankreas.
13.  Bedah eksprolasi mungkin diperlukan pada adanya nyeri /komplikasi yang tak hilang pada traktus bilier.
Kekurangan volume cairan b.d muntah
Setelah dilakukan
1.      Cacat karakteristik muntah dan/drainase.
2.      Awasi tanda vital ; bandingkan dengan hasil normal pasien/sebelumnya. Ukur TD  dengan posisi duduk, berbaring, berdiri bila mungkin.
3.      Cacat respons fisiologis individual pasien terhadap perdarahan, misalnya perubahan mental, kelelahan, gelisah, ansietas, pcat, berkeringan, takipnea, peningkatan suhu.
4.      Ukur CVP, bila ada.
5.      Awasi masukan dan haluaran dan hubungkan dengan perubahan berat badan ukur kehilangan darah/czirzn melzlui muntah, penghisaapan gaster/lavase dan defekasi.
6.      Pertahankan pencatatan akurat subtotalcairan/darah selama terapi penggantian.
7.      Pertahankan tirah baring : mencegah muntah dan tegangan pada saat defekasi. Jadwalkan aktivitas untuk memberikan periode istirhat tanpa gangguan. Hilangkan rangsanga berbahaya
8.      Tinggikan kepala tempat tidur selama pemberian antasida.
9.      Catat tanda perdarahan baru setelah berhentinya perdarahan awal
10.  Observasi perdarahan sekunder. Misalnya hidung/gusi, perdarahan terus menerus dari area suntikan, penampilan ekimosis setelah trauma kecil.
11.  Berikan cairan jernih/lembut bila masukkan di mulai lagi, hindari kafein dan minuman karbonat.

1.      Membantu dalam membedakan penyebab distres gaster. Kandungan empedu kuning kehijauan menunjukkan bahwa pilorus terbuka. Kandungan fekal menunjukkan obstruksi usus. Darah merah cerah mendadak adanya atau perdarahan arterial akut. Mungkin karena ulkus gaster; darah merah gelap mungkin darah lama (tertahan dalam usus) atau perdarahan vena dari varises. Penampilan kopi gelap diduga sebagian darah tercerna dari area perdarahan lambat. Makanan tak tercerna menunjukkan obstruksi atau tumor gaster.
2.      Rubahan TD dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kasar kehilangan darah (misalnya TD <90mmHg, dan nadi lebih dari 110 diduga 25% penurunan volume atau kurang lebih 1000ml). Hipotensi postural menunjukkan penurunan volume sirkulasi.
3.      Sympthomatologi dapat berguna dalam mengukur berat/lamanya episode perdarahan. Memburuknya gejala dapat menunjukan berlanjutnya perdarahan atau tidak adekuatnya penggantian cairan.
4.      Menunjukkan volume sirkulasi dan respons jantung terhadap perdarahan dan penggantian cairan; misalnya nilai CVP antara 5 dan 20cmH2O bisanya menunjukkan volume adekuat.
5.      Memberikan pedoman untuk penggantian cairan.
6.      Potensial kelebihan transfusi cairan, khususnya bila volume tambahan diberikan sebelum transfui darah.
7.      Aktivitas/muntah meningkakan tekanan inta-abdominal dan dapat mecetuskan perdarahan lanjut.
8.      Mencegah refluks gaster dn aspirasi antasida dimana dpata menyebabkan komplikasi paru serius.
9.      Meningkatkan pemenuhan/distensi abdominal, mual atau muntah barudan diare baru dapat menunjukkan perdarahan ulang.
10.  Kehilangan/tidak adekuatnya penggantian paktor pembekuan dapat mencetuskan pembekuan KID.
11.  Kafein dan minuman karbonat merangsang produksi asam hidroklorida, kemungkinan potensial perdarahan ulang.
Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake yang kurang

1.      Kaji abdomen, catat adanya/karakter bising usus, distensi abdomen, dan keluhan mual.
2.      Berikan perwatan oral.
3.      Bantu pasien dalam pemilihan makanan/cairan yang memenuhi takebutuhan nutrisi dan pembatasan bila diet dimulai.
4.      Observasi warna/konsistensi/jumlah feses. Catat konsistensi lembek/bau busuk.
5.      Catat tanda peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental dan ketajaman visual.
6.      Tes urine untuk gula aseton.
7.      Pertahankan status puasa dan penghisapan gaster pad afase akut.
8.      Awasi glukosa serum.
9.      Berikan hiperlamentasi dan lipid, bila diindikasikan.
10.  Mulai pemasukan oral dengan cairan bening dan diet lanjut secara perlahan unntuk memberikan diet tinggi protein, tinggi karbohidrat bila diindikasi.
11.  Berikan trigliserida rantai sedang (contoh MCT, Portagen)
12.  Berikan hiperalimintasi dan lipid ,bila di indikasikan .Berikan obat sesuai indikasi:
a.       Vitamin contoh A,D,E,K;
b.      Penggantian enzim contoh pankreatin (viokase),fankrealipase (cotazym)
c.       Antikolinergik , metanhelin bromida (banthine);
1.      Distensi abdomen dan atoni usus sering terjadi, mengakibatkan penurunan/tak danya bising usus. Kembalienghentian aspirasi gaster.
2.      Menurunkan rangsangan muntah dan inflamasi/iritasi membran mukosa kering sehubungan dengan dehidrasi dan bernafas dengan mulut bila NG dipasang.
3.      Kebiasaan diet sebelumnya mungkin tidak memuaskan pada pemenuhan kebutuhan saat ini untuk regenerasi jaringan dan penyembuhan. Penggunaan stimulus gaster, contoh kafein, alkohol, sigaret, makanan penghasil gas, atau makan terlalu banyak dapat mengakibatkan rangsangan berlebihan pada pankreas  /berulangnya gejala.
4.      Steatorea terjadi karena pencernaan lemak tak sempurna.
5.      Mewaspadakan terjadinya hiperglikemia karena peningkatan pengeluaran glukagon (kerusakan sel alfa) atau penurunan pengeluaran insulin (kerusakan sel beta).
6.      Deteksi dini pada penggunaan glukosa  tak adekuat dapat mencegah terjadinya kedoasitosis.
7.      Mencegah rangsangan dan pengeluaran enzim pankreas (sekretin) bila kimus dan asam HCL masuk ke duodenum.
8.      Indikator kebutuhan insulin karena hiperglikemia sering terjadi meskipun tidak selalu pada kadar cukup tinggi untuk menghasilkan ketoasidosis.
9.      Pemberian IV kalori, lipid, dan asam amino harus diberikan seelum penurunan nutris/nitrogen memburuk.
10.  Pemberian makan oral terlalu dini pada penyakit berat dapat mengeksaserbasi gejala. Kehilangan fungsi fankreas/ penurunan produksi insulin memerlukan diet diabetik
11.  MCT memberikan kalori/nutrien tambahan yang tidak memerlukan enzim fankreas untuk pencernaan absorpsi.
12.  a. Kebutuhan penggantian seperti metabolisme lemak terganggu,penurunan absropsi /penyimpanggan vitamin larut dalam lemak.
b. Digunakan pada pankreatitis untuk memperbaiki defisiensi untuk meningkatkan pencernaan dan absropsi nutrien .
c. Diperkirakan menurunkan sekresi fankreas dan gaster dengan penekanan mekanisme vagal dan penurunan motilitas.

Gangguan mobilisasi fisik b.d kelemahan fisik dan penurunan energi metabolik




Komentar

Postingan populer dari blog ini

laporan pendahuluan typoid

Askep tumor otak