Askep tumor otak



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Tumor otak atau tumor intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space occupying lesion) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen supratentorial maupun infratentorial, mencakup tumor-tumor primer pada korteks, meningen, vaskuler, kelenjar hipofise, epifise, saraf otak, jaringan penyangga, serta tumor metastasis dari bagian tubuh lainnya.
Tumor otak primer menunjukkan kira-kira 20% dari semua penyebab kematian karena kanker, dimana sekitar 20% sampai 40% dari semua kanker pasien mengalami metastase ke otak dari tempat-tempat lain. Tumor-tumor otak jarang bermetastase keluar sistem saraf pusat tetapi jejas metastase ke otak biasanya dari paru-paru, payudara, saluran gastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal dan kulit (melanoma). Insiden tertinggi  pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade kelima, keenam dan ketujuh, dengan tingginya insiden pada pria. Pada usia dewasa, tumor otak banyak dimulai dari sel glia (sel glia membuat struktur dan mendukung sistem otak dan medula spinalis) dan merupakan supratentorial (terletak diatas penutup cerebellum). Jejas neoplastik di dalam otak akhirnya menyebabkan kematian yang mengganggu fungsi vital, seperti pernafasan dan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
Peningkatan tekanan intra kranial dapat terjadi bila kenaikan yang relatif kecil dari volume otak, keadaan ini tidak akan cepat menyebabkan tekanan tinggi intrakranial, sebab volume yang meninggi ini dapat dikompensasi dengan memindahkan cairan serebrospinal dari rongga tengkorak ke kanalis spinalis dan volume darah intrakranial akan menurun karena berkurangnya peregangan durameter. Hubungan antara tekanan dan volume ini dikenal dengan complience. Jadi jika otak, darah dan cairan serebrospinal volumenya terus menerus meninggi, maka mekanisme penyesuaian ini akan gagal dan terjadi peningkatan intrakranial yang mengakibatkan herniasi dengan gagal pernapasan dan gagal jantung serta kematian.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa itu tumor otak?
2.      Bagaimana klasifikasi dari tumor otak?
3.      Bagaimana etiologi terjadinya tumor otak?
4.      Bagaimana patofisiologi terjadinya tumor otak?
5.      Apa saja manifestasi klinis dari tumor otak?
6.      Apa saja komplikasi yang dapat ditimbulkan?
7.      Apa saja pemeriksaan diagnostis dari tumor otak?
8.      Bagaimana penatalaksanaan tumor otak?
9.      Bagaimana pemberian asuhan keperawatan dari tumor otak?

  1. Tujuan penulisan
1.       Tujuan Umum
Setelah membahas makalah “Asuhan Keperawatan pada Pasien Tumor Otak”, mahasiswa mampu menerapkan pengetahuan mereka tentang cara-cara menangani pasien dengan tumor otak sesuai Asuhan Keperawatan yang telah ditegakkan.
2.       Tujuan Khusus
Setelah membahas makalah “Asuhan Keperawatan pada Pasien Tumor Otak”, mahasiswa mampu:
-        Memahami Konsep Penyakit Tumor Otak
-        Memahami masalah kesehatan pada pasien tumor otak
-        Memahami dan mengetahui Konsep Asuhan Keperawatan untuk pasien pengidap penyakit tumor otak.
-        Mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien pengidap penyakit tumor otak

























BAB II
PEMBAHASAN

  1. Definisi
Tumor intrakranial (termasuk lesi desak ruang) bersifat jinak maupun ganas, dan timbul dalam otak, meningen, dan tengkorak. Tumor otak berasal dari jaringan neuronal, jaringan otak penyokong, sistem retikuloendottelial, lapisan otak, dan jaringan perkembangan lesi dual, atau dapat bermetastasis dari karsinoma sistemik. Metastasis otak disebabkan oleh keganasan sistemik dari kanker paru, payudara, melanoma, limpoma, dan kolon. Tumor otak dapat terjadi pada setiap usia; dapat terjadi pada anak usia kurang dari 10 tahun tetapi paling sering terjadi pada dewasa usia dekade kelima dan keenam. Pasien yang bertahan dari tumor otak ganas jumlahnya tidak berubah banyak selama 20 tahun terakhir.
Tumor otak memiliki banyak klasifikasi. Klasifikasi yang mungkin paling mudah dipahami adalah klasifikasi kernahan dan saire karena tumor di beri nama sel yang terserang, baik sel pada susunan saraf orang dewasa, pada pembuluh darah, maupun dari ganggun perkembangan (Kongenital). Stadium keganasannya diberi derajat 1-4 adalah yang paling ganas.
Penderita tumor otak memiliki berbagai gejala yang membingungkan sehingga diagnosis sulit ditegakkan tumor tertentu lebih sering terjadi kelompok umur tertentu. Pada masa bayi dan kanak-kanak tumor fosa posterior lebih sering terjadi dari pada lesi supratentorial (fosa media atau anterior) yang lebih sering terjadi pada dewasa. Tumor otak pada anak-anak kemungkinan besar adalah astrositoma ganas dari sebelum derajat 1 atau 2 pada individu setengah umur atau tua, tumor otak yang tersering adalah glioblastoma multiforme, yaitu jenis gelioma terganas yang ditandai dengan pertumbuhan tumor yang cepat.
Tumor otak primer menunjukkan kira-kira 20% dari semua penyebab kematian karena kanker, dimana sekitar 20% sampai 40% dari semua kanker pasien mengalami metastase ke otak dari tempat-tempat lain. Tumor-tumor otak jarang bermetastase keluar sistem saraf pusat tetapi jejas metastase ke otak biasanya dari paru-paru, payudara, saluran gastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal dan kulit (melanoma).
Insiden tertinggi pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade kelima, keenam dan ketujuh, dengan tingginya insiden pada pria. Pada usia dewasa, tumor otak banyak dimulai dari sel glia (sel glia membuat struktur dan mendukung sistem otak dan medula spinalis) dan merupakan supratentorial (terletak diatas penutup cerebellum). Jejas neoplastik di dalam otak akhirnya menyebabkan kematian yang mengganggu fungsi vital, seperti pernafasan dan adanya peningkatan tekanan intrakranial.


  1. Klasifikasi
Tumor-tumor otak dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok besar; (1) tumor yang muncul dari pembungkus otak, seperti mengioma dura; (2) tumor yang berkembang di dalam atau di atas saraf kranial, paling baik di contohkan dengan neuroma akustik; (3) tumor yang berasal di dalam jaringan otak, seperti pada jenis glioma; dan (4) lesi metastatik yang berasal dari bagian tubuh lainnya. Tumor mungkin jinak atau malignan. Namun, karena tumor jinak dapat terjadi di dalam daerah vital, tumor ini mempunyai efek yang sama seriusnya dengan tumor maligna. Tumor yang jinak atau yang tidak ganas (non malignant) lambat tumbuhnya, tidak menyebar, dan biasanya dikelilingi oleh penutup atau kapsul. Pertumbuhan yang seperti itu bisa disebut sebagai enkapsuleted tumor atau tumor terbungkus.

1.      Tumor Spesifik
a.       Glioma
Jumlah glioma adalah sekitar 40 sampai 40 sampai 50 % dari tumor otak. Glioma dikelompokan berdasarkan asal embriologis. Pada orang dewasa, sel neuroglia sistem saraf pusat berfungsi untuk memperbaiki  menyokong, dan melindungi sel-sel yang lunak. Glioma terdiri dari jaringan penyambung dan sel-sel penyokong. Untuk terus membelah selama hidup. Sel-sel gila berkumpul membentuk parut sikatriks padat dibagian otak dimana neuron menghilang oleh karena cedera atau penyakit. Tumor glia merupakan penyebab dari hampir separuh tumor otak pada anak. Sebagian besar tumor glia pediatrik merupakan tumor derajat rendah yang paling sering terletak di fosa posterior dan regio diensefalon (smith,1998). Terdapat tiga jenis sel glia: mikroglia, oligodendroglia, dan atrosit.
·         Mikroglia secara embreologis berasal dari lapisan mesodermal sehhingga pada umumnya tidak di klasifikasikan sebagai sel glia sejati.
·         Oligodendroglia dan astrosit merupakan neuroglia sejati dan berasal dari lapisan embrional ektodermal (sama seperti neuron). Fungsi astrosit masih diteliti; bukti-bukti memperlihatkan bahwa sel-sel ini mungkin berperan dalam menghantarkan impuls dan transmisi sinaptik dari neuron dan bertindak sebagai saluran penghubung antara pembuluh darah dan neuron.
·         Astrositoma menginfiltrasi otak dan sering berkaitan dengan kista dalam berbagai ukuran. Walaupun menginfiltrasi jaringan otak, efeknya pada fungsi pada umumnya, astrositoma tidak bersifat ganas, walaupun dapat mengalami perubahan keganasan menjadi glioblastoma, suatu astrositoma yang sangat ganas. Tumor-tumor ini pada umunya tumbuh lambat. Oleh karena itu, penderitanya sering tidak datang berobat walaupun tumor sudah berjalan bertahun-tahun sampai timbul gejala (misal, serangan epilepsi atau nyeri kepala).
Glioblastoma multiforme adalah jenis glioma yang paling ganas. Tumor ini mempunyai kecepatan pertumbuhan yang sangat tinggi, dan eksisi bedah yang lengkap tidak mungkin dilakukan.
Oliglodendroglioma merupakan lesi yang tumbuh lambat menyerupai astrotisoma, tetapi terdiri dari sel-sel oligodendroglia. Tumor relatif avaskular dan cenderung mengalami kalsifikasi; biasanya dijumpai pada himesfer otak orang dewasa muda.Tumor ini dapat timbul sebagai gangguan kejang parsial yang timbul hingga 10 tahun, dan menyebabkan simtomatologi bermakna akibat peningkatan tekanan intrakranial.
Oligodendroglioma merupakan keganasan pada manusia yang paling bersifat kemosensitif. Regimen kemoterapi yang paling sering digunakan adalah melfalan, thiotep, temozolomide, paliktasel (taxol), dan regimen berdasar –platinum.
Ependimoma adalah tumor ganas yang jarang terjadi dan berasal dari hubungan erat pada ependim yang menutupi ventrikel, paling sering terjadi dalam fosa posterior tetapi dapat terjadi disetiap bagian fosa ventrikularis. Penderita tumor yang terletak didasar dan atap ventrikel dapat disekresi secara sempurna dari pada penderita tumor diprosesus lateralis.

b.      Adenoma Hipofisis
Adenoma hipofisis. Kelenjar pituitari, juga disebut hipofisis, adalah kelenjar yang relatif kecil terletak pada sela turnika. Kelenjar ini menempel pada hipotalamus melalui melalui sebuah tangkai pendek (tangkai hipofisial) dan di bagi menjadi dua lobus anterior (adeno hipofisis) dan posterior (neurohipofisis). Lobus anterior mengeluarkan hormone prtumbuhan, hormone adrenokortikotrofik (ACTH), hormon perangsang tiroid (TSH), proklatin, hormon–hormon perangsang polikel (FSH), dan hormon luteinizing (LH). Hipofisis posterior menyimpan dan melepaskan hormon antidiuretic (vasopresin) dan oksitosin.
Efek tekanan tumor-tumor hipofisis menunjukan kira-kira 8% sampai 12% dari semua tumor otak dan menyebabkan gejala-gejala akibat tekanan pada struktur sekitar atau terjadi perubahan hormon (hiper fungsi dan hipo fungsi), tekanan dari edonema  hipofungsi mungkin mendesak saraf-saraf optik, khiasma optik, atau saluran optic atau diatas hipotalamus atau pada ventrikel ketiga bila tumor-tumor menyerang sinus kavernosa atau meluas kedalam tulang sfenoid. Pengaruh tekanan menyebakan sakit kepala, gangguan fungsi penglihatan, gangguan hipotalamus (misalnya gangguan tidur, nafsu makan, suhu, dan emosi), peningkatan TIK dan pembesaran serta erosi sella turnika.
Efekm hormonal. Fungsi hipofisis yang terdapat tumor dan menghasilkan satu atau lebih hormo normal yang dihasilkan oleh hipofisis anterior. Hormon-hormon ini dapat menyebabkan adenoma hipofisis penyekresi prolaktin (prolaktinoma), sekrsi hormone pertumbuhan oleh adenoma hipofisis yang menyebabkan akromegali pada orang dewasa dan produksi ACTH oleh adenoma hipofisis yang meningkatkan pada penyakit cushing. Sekresi TSH atau FSH-LH pada adenoma tidak sering terjadi, dimana kedua hormon pertumbuha dan prolaktin relatif biasa dihasilkan oleh adenoma.
Pasien wanita mempunyai kelenjar hipofisis yang menyekresi kuantitas prolaktin yang berlebihan dengan menimbulkan amenorea atau galaktorea (kelebihan atau aliran spontan susu). Pasien pria dengan prolaktinoma dapat muncul dengan impotensi dan hipogodanisme .
Akromegali, disebabkan oleh kelebihan hormon pertumbuhan. Menimbulkan pembesaran tangan  dan kaki. Distorsi gambaran wajah, dan tekanan pada saraf-saraf  perifer (sindrom entrapment).
Tindakan. Kebanyakan adnoma hipofisis sering diobati dengan mengangkat tumor dan bedah mikrotransfenoidal, dimana sisa–sisa  tumor tidak  tidak dapat diangkat  semuanya, diterapi dengan radiasi.

c.       Angioma Otak
Angioma otak (bentuk pembesaran massa pada pembuluh darah abnormal yang didapat di dalam atau di luar daerah otak. Beberapa kehidupan  yang terdapat angioma tanpa menyebabka gejala-gejala; pada tumor otak lainya muncul gejala-gejala. Kadang-kadang  dignosa  memberi kesan dengan adanya angioma yang lain di beberapa tempat  dalam kepala atau sebuah bruit (suara abnormal) terdengar sampai  ditengkorak. Karena dinding pembuluh darah pada angioma tipis, maka pasien berisiko terhadap adanya cedera vascular serebral (stroke). Adanya perdarahan serebral pada orang dibawah 40 tahun memberi kesan mungkin adanya angioma.

d.      Neuroma Akustik
Neuroma akustik adalah sebuah tumor pada saraf kranial keedelapan, saraf untuk pendengaran dan keseimbangan. Itu biasanya muncul juga dalam meatus auditori internal, dimana ini sering berkembang sebelum pengisian serebelopontin berhenti.
Neuroma akustik. Neuroma dapat tumbuh lambat dan mencapai ukuran besar sebelum diagnosa ditegakan. Pasien biasanya mengalami kehilangan  pendengaran, tinnitus, dan episode vertigo dan gaya berjalan sempoyongan akibat  tumor membesar, sensasi nyeri pada wajah dapat terjadi pada sisi wajah yang sama, sebagai hasil dari tekanan tumor pada saraf kranial kelima.
Dengan menggunakan teknik sinar-x yang diperbaiki dan penggunaan mikroskop operasi dan instrument bedah mikro, sehingga tumor-tumor besar yang  dapat diangkat  melalui kraniotomi relative kecil. Beberapa tumor-tumor ini cocok untuk radioterapi sterotaktik dari pada pembedahan.


  1. Etiologi
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel manusia memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker.
Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu:

·         Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota- anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.

·       Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.

·       Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.

·       Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.

·       Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.


  1. Patofisiologi
Tumor otak menyebabkan timbulnya gangguan neurologik progresif. gejala-gejalanya timbul dalam rangkaian kesatuan sehingga menekan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan penderita. Gejala-gejala sebaiknya dibicarakan dalam suatu perspektif waktu.kapan gejala mulai timbul? Apakah ada hubunganya dengan suatu hal lain? Berapa lama geja –gejala ini sudah dialami?
Gangguan neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh sdua faktor: gangguan fokal akibat tumor dan kenaikan tekanan intrakranial. gangguan fokal terjadi apabila terdapat  penekanan pada jaringan otak, dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neural. Tentu saja disfungsi terbesar terjadi pada tumor infiltratif yang tumbuh paling cepat (yaitu glioblastoma multiforme). Perubahan suplai darah akibat tekanan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanisfestasi sebagai hilangnya fungsi akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskular primer. Serangan kejang sebagai manisfestasi perubahan kepekaan neuron dihubungkan dengan kompresi invasi, dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan neurologis fokal. Peningkatan ICP dapat disebabkan oleh beberapa faktor: bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal. Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan mendesak ruang yang relatif tetap pada ruangan  tengkorak yang kaku. Tumor ganas menyebakan edema dalam jaringan otak sekitarnya. Mekanisme belum begitu dipahami, tetapi diduga disebabkan oleh selisih osmotik yang menyebabkan penyerapan cairan tumor. Beberapa tumor menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan edema akibat kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan peningkatan volume intrakranial dan ICP. Obstruksi sirkulasi CSF dari ventrikel lateralis ke ruangan subarakhnoid menimbulkan hidrosefalus.
Peningkatan ICP akan membahayakan jiwa bila terjadi cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya.mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk menjadi efektif sehingga tidak berguna bila tekanan intrakranial timbul cepat.mekanisme kompensasi ini antara lain antara lain bekerja menurunkan volume darah intrakranial, volume CSF, cairan kandungan intrasel, dan mengurangi sel-sel parenkim. Peningkatan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan terjadinya herniasi unkus atau serebelum. Herniasi unkus timbul bila girus medialis lobus temporalis tergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh  massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan mesensefalon menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf otak ketiga. Pada herniasi serebelum, tonsil serebelum tergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medula oblongata dan henti napas terjadi dengan cepat. Perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan ICP yang cepat adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi), dan gagal napas.

  1. Manifestasi Klinis
Trias klasifikasi tumor otak adalah nyeri kepala, muntah, dan papiledema. Namun, gejala sangat bervariasi bergatung pada tempat lesi dan kecepatan pertumbuhannya.
1.      Nyeri kepala
Barangkali nyeri kepala merupakan gejala umum yang paling sering dijumpai pada penderita tumor otak. Nyeri dapat digambarkan bersifat dalam, terus menerus, tumpul, dan kadang-kadang hebat sekali. Nyeri ini paling hebat saat pagi hari dan menjadi lebih hebat saat beraktivitas, yang biasanya meningkatkan tekanan intrakranial, seperti membungkuk, batuk, atau mengejan sewaktu buang air besar. Nyeri kepala sedikit berkurang jika diberi aspirin dan kompres dingin di tempat yang sakit.
Nyeri kepala akibat tumor otak disebabkan oleh traksi dan pengeseran struktur peka-nyeri dalam rongga intrakranial. Struktur-struktur peka-nyeri ini adalah arteri, vena, sinus-sinus vena dan saraf otak.
Lokasi nyeri kepala akibat tumor otak disebabkan oleh karena sepertiga dari nyeri kepala cukup bernilai oleh karena sepertiga dari nyeri kepala ini terjadi pada tempat tumor sedangkan dua pertiga lainnya terjadi didekat atau di atas tumor. Nyeri kepala oksipital merupakan gejala pertama dalam tumor sedangkan dua pertiga lainnya terjadi didekat atau diatas tumor. Nyeri kepala oksipital merupakan gejala pertama dalam tumor fosa posterior. Sekitar sepertiga dari lesi supratentorial menyebabkan nyeri kepala frontal. Bila keluhan nyeri kepala terjadi menyeluruh maka kurang dapat ditentukan lokasinya dan biasanya menunjukkan pergeseran eksternsif kandungan intrakranial akibat peningkatan ICP.

2.      Mual dan Muntah
Mual dan muntah terjadi akibat rangsangan pusat muntah di medula oblongata. Muntah paling sering terjadi pada anak dan berhubungan dengan peningkatan ICP disertai pergeseran batang otak. Muntah dapat terjadi tanpa didahului mual dan dapat bersifat proyektil.

3.      Papiledema
Papiledema disebabkan oleh statis vena yang menimbulkan pembengkakan dan pembesaran diskus optikus. Bila terlihat pada pemeriksaan funduskopi, tanda ini mengisyaratkan peningkatan ICP. Seringkali sulit untuk menggunakan tanda ini untuk menegakkan diagnosis tumor otak karena pada beberapa induvidu mungkin tidak terlihat papiledema pada fundus meskipun ICP amat tinggi.

4.      Lokalisasi gejala
Gejala dan tanda lain tumor otak cenderung makin dapat membentukan lokasinya. Tumor lobus frontalis memberi gejala perubahan metal, hemiparesis, ataksia, dan gangguan bicara. Perubahan mental bermenifestasi sebagai perubahan ringan dalam kepribadian. Beberapa penderita mengalami periode depresi, bingung atau periode ketika tingkah laku penderita menjadi aneh. Perubahan tersering adalah perubahan dalam beragumentasi yang sulit dan memberi penilaian.

  1. Komplikasi
1.      Ganguan Fungsi Luhur
Komplikasi tumor otak yang paling ditakuti selain kematian adalah gangguan fungsi luhur. Gangguan ini sering diistilahkan dengan gangguan kognitif dan neurobehavior sehubungan dengan kerusakan fungsi pada area otak yang ditumbuhi tumor atau terkena pembedahan maupun radioterapi.
Neurobehavior adalah keterkaitan perilaku dengan fungsi kognitif dan lokasi/lesi tertentu di otak. Pengaruh negatif tumor otak adalah gangguan fisik neurologist, gangguan kognitif, gangguan tidur dan mood, disfungsi seksual serta fatique.
Gangguan kognitif yang dialami pasien tumor otak bisa dievaluasi dengan berbagai tes. Di antaranya adalah Sickness Impact Profile, Minesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), dan Mini mental State Examination (MMSE). Komponen kognitif yang dievaluasi adalah kesadaran, orientasi lingkungan, level aktivitas, kemampuan bicara dan bahasa, memori dan kemampuan berpikir, emosional afeksi serta persepsi.

2.      Ganguan Wicara
Gangguan wicara sering menjadi komplikasi pasien tumor otak. Dalam hal ini kita mengenal istilah disartria dan aphasia.
Disartria adalah gangguan wicara karena kerusakan di otak atau neuromuscular perifer yang bertanggung jawab dalam proses bicara. Tiga langkah yang menjadi prinsip dalam terapi disartria adalah meningkatkan kemampuan verbal, mengoptimalkan fonasi, serta memperbaiki suara normal.
Afasia merupakan gangguan bahasa, bisa berbentuk afasia motorik atau sensorik tergantung dari area pusat bahasa di otak yang mengalami kerusakan. Fungsi bahasa yang terlibat adalah kelancaran (fluency), keterpaduan (komprehensi) dan pengulangan (repetitif). Pendekatan terapi untuk afasia meliputi perbaikan fungsi dalam berkomunikasi, mengurangi ketergantungan pada lingkungan dan memastikan sinyal-sinyal komunikasi serta menyediakan peralatan yang mendukung terapi dan metode alternatif. Terapi wicara terdiri atas dua komponen yaitu bicara prefocal dan latihan menelan.

3.      Ganguan Pola Makan
Disfagi merupakan komplikasi lain dari penderita ini yaitu ketidakmampuan menelan makanan karena hilangnya refleks menelan. Gangguan bisa terjadi di fase oral, pharingeal atau oesophageal. Komplikasi ini akan menyebabkan terhambatnya asupan nutrisi bagi penderita serta berisiko aspirasi pula karena muntahnya makanan ke paru. Etiologi yang mungkin adalah parese nervus glossopharynx dan nervus vagus. Bisa juga karena komplikasi radioterapi. Diagnosis ditegakkan dengan videofluoroscopy. Gejala ini sering bersamaan dengan dispepsia karena space occupying process dan kemoterapi yang menyebabkan hilangnya selera makan serta iritasi lambung. Terapi untuk gejala ini adalah dengan sonde lambung untuk pemberian nutrisi enteral, stimulasi, dan modifikasi kepadatan makanan (makanan yang dipilih lebih cair/lunak).


4.      Kelemahan Otot
Kelemahan otot pada pasien tumor otak umumnya dan yang mengenai saraf khususnya ditandai dengan hemiparesis, paraparesis dan tetraparesis. Pendekatan terapi yang dilakukan menggunakan prinsip stimulasi neuromusculer dan inhibisi spastisitas. Cara lain adalah dengan EMG biofeedback, latihan kekuatan otot, koordinasi endurasi dan pergerakan sendi.

5.      Ganguan Penglihatan Dan Pendengaran
Tumor otak yang merusak saraf yang terhubung ke mata atau bagian dari otak yang memproses informasi visual (visual korteks) dapat menyebabkan masalah penglihatan, seperti penglihatan ganda atau penurunan lapang pandang.
Tumor otak yang mempengaruhi saraf pendengaran terutama neuromas akustik dapat menyebabkan gangguan pendengaran di telinga pada sisi yang terlibat otak.





6.      Stroke
Seseorang dengan stroke memiliki gangguan dalam suplai darah ke area otak, yang menyebabkan otak tidak berfungsi. Otak sangat sensitif terhadap setiap gangguan dalam aliran darah. Sel-sel otak mulai mati dalam beberapa menit kehilangan pasokan oksigen dan glukosa.
Para gangguan aliran darah dapat terjadi oleh salah satu dari dua mekanisme, yaitu hemorrhagic stroke disebabkan oleh perdarahan dari pembuluh darah kecil yang memasok darah ke otak dan Stroke iskemik disebabkan oleh bekuan darah yang menghalangi aliran darah melalui arteri yang memasok darah ke otak. Ada dua jenis stroke iskemik: Stroke trombotik stroke dan emboli. stroke trombotik disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di dalam arteri otak. Stroke emboli disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di luar pembuluh darah otak, kemudian gumpalan darah itu berjalan melaui aliran darah dan sampai pada pembuluh darah otak, gumpalan darah ini selanjutnya menyumbat suplay darah ke otak.
Pada tumor otak, komplikasi stroke yang timbul dapat berupa Hemorrhagic stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah otak yang tertekan akibat pembesaran tumor.

7.      Epilepsi
Kejadian sekitar 30% dari tumor otak. Alasannya sebagian besar disebabkan karena rangsangan langsung atau depresi dari tumor yang menyebabkan ganguan listrik pada otak dan juga tumor otak dapat menyebabkan iritasi pada otak yang dapat menyebabkan kejang.



8.      Depresi
Depresi dapat disebabkan karena tumor pada pusat emosi (system limbic) atau karena keadaan klinis yang disebabkan oleh tumor tersebut. Gejala yang timbul dapat berupa menangis terus-menerus, kesedihan yang mendalam, social withdrawal, Mudah marah, kecemasan, penurunan libido, gangguan tidur, tingkah laku yang tidak wajar. Dapat juga karena efek steroid: mood and sleep changes, ganguan bipolar (manicdepression).

9.      Hidrosephalus
Hidrosephalus terjadi apabila tumor yang terbentuk menghalangi aliran LCS, akibatnya aliran LCS akan terhambat dan mengakibatkan terbentuknya hidrosephalus. Selain itu peningkatan tekanan intrakranial juga dapat menghambat aliran LCS.

10.  Cerebral Hernia
Cerebral hernia adalah kondisi, progresif fatal di mana otak terpaksa melalui pembukaan dalam tengkorak. Tumor otak akan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, yang kemudian menyebabkan penggeseran parenkim otak ke foramen Magnum atau transtentorial.

11.  Ganguan Seksualitas
Tumor otak sendiri dapat mempengaruhi seksualitas, terutama jika tumor melibatkan daerah otak yang mengontrol pelepasan hormon yang mempengaruhi libido, termasuk estrogen, progesteron testosteron, dan. Daerah-daerah yang sama dari otak dapat rusak oleh terapi radiasi, yang yang dapat juga mengurangi kesuburan dan libido selain itu dapat pula menyababkan menopouse dini.



12.  Terbentuknya Gumpalan Darah
Adanya Tumor otak mempunyai resiko tinggi terjadinya pembekuan darah. Pembekuan ini disebut "trombosis vena dalam" (DVT) dan terjadi di pembuluh darah kaki. Gejala yang DVT meliputi nyeri betis, bengkak, dan perubahan warna kaki, meskipun itu DVT juga bisa terjadi tanpa gejala. Bahaya itu DVT adalah bahwa mereka dapat pecah dan dibawa oleh aliran darah ke paru-paru, di mana mereka menyebabkan "thromboemboli paru" (PTE) pembekuan darah di arteri paru.

  1. Pemeriksaan Diagnostik
Setiap pasien yang dicurigai menderita lesi intrakranial harus evaluasi medis lengkap dengan perhatian khusus pada pemeriksaan neurologik. Pemeriksaan diagnosis spesifik dilakukan setelah pemeriksaan neurologik dan dimulai dari tindakan non-invasif yang menimbulkan risiko terkecil sampai tindakan yang mempergunakan teknik invasif dan lebih bahaya.
Pemeriksaan radiografi tengkorak memberikan informasi berharga mengenai struktur tulang, penebalan, dan kalsifikasi; dan posisi sela tursika. EEG memberi informasi mengenai perubahan kepekaan neuron. Pergeseran kandungan intraserebral dapat terlihat pada echoensefalogram. Scan otak radioaktif memperlihatkan daerah-daerah akumulasi abnormal dari zat radioaktif. Tumor otak maupun oklusio vaskuler, infeksi, dan trauma otak yang menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif.
Angiografi otak merupakan suatu tindakan invasif yang membantu menentukan diagnosis akhir dan membantu dokter dalam menentukan pengobatan yang sesuai.
Diagnosis tumor otak sangat terbantu oleh penggunaan MRI dan CT scan.  Tindakan-tindakan ini sekarang selalu tersedia dan menjadi tindakan diagnostik pilihan, menggantikan teknik-teknik invasif.

  1. Penatalaksanaan
Tumor otak yang tidak terobati menunjukkan arah kematian, salah satu akibat dari peningkatan TIK atau dari kerusakan otak yang disebabkan tumor. Pasien-pasien dengan kemungkinan tumor otak harus dievaluasi dan di obati segera bila memungkinkan sebelum kerusakan neurologis tidak dapat diubah.
Tujuannya adalah mengangkat dan memusuhkan semua tumor atau banyak kemungkinan tanpa meningkatnya penurunan neurologic (paralisis, kebutaan) atau tercapai nya gejala-gejala dengan mengangkat sebagian (dekompresi). Salah satu variasi pengobatan dapat digunakan, pendekatan spesifik bergantungan pada tipe tumor, lokasinya dan kemampuan untuk dicapai dengan mudah. Pada beberapa pasien, kombinasi ini dapat digunakan sebagai modal.
Pendekatan pembedahan konvensional memerlukan insisi tulang (kroniotomi). Pendekatan digunakan umum untuk mengobati pasien meningioma, neuroma akustik, astrositoma kistik pada serebelum. Kisat kolod pada ventrikel ketiga, tumor kongenital seperti kista dermoid dan bberapa glanuloma. Untuk pasien-pasien dengan glioma maligna, pengangkatan tumor secara menyeluruh, dan pengobatan tidak mungkin, tetapi dapat masuk akal dengan tindakan yang mencakup pengurangan tekanan intracranial (TIK), mengangkat jaringan nekroit dan mengurangi bagian yang besar dari tumor, yang secara teori meninggalkan sedikit sel yang bertinggal atau menjadi resisten terhadap radiasi atau kemoterapi.
Pendekatan Stereotaktik meliputi penggunaan kerangka tiga dimensi yang mengikuti lokasi tumor yang sangat tepat, kerangka streotaktik dan studi pencitraan meliputi (sinar-x, Ct) yang lengkap diguanakan untuk menentukkan lokasi tumor dan memeriksa posisinya. Laser atau radiasi dapat dilebaskan dengan pendektanan stereotaktik. Radioisotop dapat juga ditempalkan langsung ke dalam tumor untuk menghasilkan dosis tinggi pada radiasi tumor (Brakhiterapi) sambil meminimalkan pengaruh pada jaringan otrak di sekitarnya.
Penggunaan pisau gamma dilakukkan pada ”bedah-radio” samapai dalam, untuk tumor yang tidak dapat di masukkan obat, tindakan tersebut sering diulakukkan sendiri. Lokasi yang tepat dilakukkan dengan menggunakan pendekatan stereotaktik dan melalui laporan pengujian dan posisi pasien yang tepat. Dosis sangat tinggi radiasi akan dilepaskan pada luas bagian yang kecil. Keuntungan metoda ini adalah waktu yang labat diantara pengobatan dan hasil yang diharapkan.
Modalitas tindakan lain terdiri dari kemoterapi dan terapi sinar radiasi eksternal, di mana digunakan hanya salah satu model atau dikombinasi dengan pendekatan seperti gambaran di atas. Terapi radiasi, merupakan dasar pada pengobatan beberapa tumor otak, juga menurunkan timbulnya kembali tumor yang tidak lengkap. Transplantasi sumsum tulang autolog intravena diguankan pada beberapa pasien yang akan menerima kemotrapi atau terapi radiasi. Karena keadaan ini penting sekali untuk ‘‘menolong’’ pasien terhadap adanya keracunan pada sumsum tulang sebagai akibat dosis tinggi kemoterapi dan radiasi. Sumsum tulang pasien diaspirasi sedikit, biasanya dilakukan pada kepala iliaka dan disimpan. Pasien yang menerima dosis kemoterapi dan terapi radiasi yang banyak, akan menghancurkan sejumlah besar sel-sel keganasan (malignan), Sumsusm kemudian diinfus kembali setelah pengobatan lengkap.
Kortikosteroid boleh digunakan sebelum pengobatan sesuai dengan diperkenalkannya penggunaan oabat ini, yang didasari melalui vealusi diagnistik dan kemudian menurunkan edema serebral dan meningkatkan kelancaran serta pemulihan lebih cepat.



  1. Pengobatan
Pengobatan bedah pada tumor otak terutama berkisar disekitar reseksi bedah, kemoterapi, dan terapi radiasi. Semakin berkembangnya teknik pembedahan, penemuan laser, dan alat-alat yang dibantu komputer memungkinkan reseksi tepat pada pasien tumor otak yang dapat di capai. Reseksi bedah tetap merupakan terapi utama karena dapat membunuh dan membuang sel tumor. Selain itu, reseksi bedah memungkinkan evaluasi histologis dan penentuan derajat tumor secara akurat sementara memungkinkan pasien kembali berfungsi aktif selama menjalani terapi tambahan.
Pengobatan radasi pada 20 hingga 30 tahun lalu adalah radiasi otak seluruhnya; sekarang, kemajuan teknik radioterapi memungkinkan terapi radiasi yang lebih tepat. Teknik streotaktik memungkinkan penempatan secara akurat benih iodium secara langsung kedalam area tumor. Terapi radiasi konformal (penyempitan sinar sesuai ukuran dan bentuk tumor) mengurangi keterpanjanan jaringan sekitarnya terdapat radiasi.
Kometerapi dilakukan dalam berbagai cara, termasuk secara sistemik, intra-arterial, atau dengan memasukan polimer yang membawa agen kemoterapi secara langsung ke jaringan tumor. Masalah utama dengan komplikasi depresi sumsum tulang, paru, dan hepar tetap merupakan faktor penyulit utama dalam kemoterapi. Sawar darah-otak juga mempersulit oemberian agen kemoterapi. Penelitian sawar darah otak dengan manitol hiperosmotik memberi hasil yang mengecewakan. Penelitian mengenai penggunaan deksametason untuk menutup sawar darah-otak dan efek obat antiepilepsi pada metabolisme obat kemoterapi masih terus dilakukan dan mulai memberikan hasil.
Penelitian genetika akan memberi informasi genetik pada dokter yang akan diubah menjadi identifikasi target pontensial untuk perkembangan obat anti tumor. Saat ini berkembang dasar pengetahuan mengenai faktor genetik yang menyebabkan kanker histologis. Keterlibatan genetik dalam glioma, astrositoma, dan meduloblastoma mulai menunjukan hasil, Area penelitian adalah prodrug (senyawa tak aktif secara biologis yang dapat dimetabolisme dalam tubuh untuk menghasilkan obat) enzim yang ditunjukan pada gen (‘’gen bunuh diri’’), terapi gen untuk memperkuat aktifitas sistem imun terhadap sel kanker, dan transfer gen supresor tumor kedalam sel kanker (Engelhard,2000). Penemuan baru dan perkembangan terapi baru telah banyak menjanjikan bagi pengobatan yang lebih efektif, tepat, dan kurang toksik dibandingkan dengan pengobatan saat ini.



 




















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN TUMOR OTAK

Diagnosa: Nyeri akut b.d peningkatan tekanan intra cranial
Tujuan umum:
o   Memperlihatkan pengendalian nyeri, yang dibuktikan oleh indikasi sebagai berikut (sebutkan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering atau selalu)
Kriteria hasil:
o   Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tekhnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
o   Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
o   Ampu mengenai nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
o   Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Ds:
-          Klien mengungkapkan secara verbal atau melaporkan [nyeri] dengan isyarat
Do:
o   Posisi untuk menghindari nyeri
o   Wajah topeng [nyeri]
o   Bukti nyeri yang dapat diamati
o   Berfokus pada diri sendiri
o   Gangguan tidur (mata terlihat kuyu, gerakan tidak teratur atau tidak menentu, dan menyerangi)
Intervensi
Rasional
Minta pasien untuk menggambarkan nyerinya dan kaji gejala-gejala fisiknya yang mengindikasikan nyeri
Pengkajian kembali yang kontinu memungkinkan modifikasi rencana keperawatan yang diperlukan
Berikan obat yang dianjurkan
Untuk mengurangi nyeri
Periksa keefektifan pengobatan setelah 30 menit
Untuk memantau pengurangan nyeri dan membina tingkat kepercayaan yang diperlukan untuk hubungan terapeutik
Luangkan waktu minimal 15 menit setiap pergantian tugas jaga untuk mengizinkan pasien mengungkapkan perasaan-perasaannya
Untuk meningkatkan rasa keadilannya, mengurangi isolasi, dan menambahkan rasa percaya
Rencanakan aktivitas untuk mendistraksikan pasien, seperti membaca, menonton televisi, dan kunjungan keluarga
Untuk membantu menghindarkan pasien dari memfokuskan pada nyeri
Ajarkan pasien tekhnik pengendalian nyeri alternatif, seperti hipnosis diri, umpan balik biologis dan relaksasi


Diagnosa: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual dan muntah, penurunan intake makanan
Tujuan umum:
o   Selera makan: keinginan untuk makan ketika dalam keadaan sakit atau sedang menjalani pengobatan
o   Status gizi: Pengukuran biokimia: komponen dan kimia cairan tubuh yang mengindikasikan status nutrisi
o   Status gizi: Asupan makanan dan cairan: keadekuatan pola asupan zat gizi yang biasanya
o   Status gizi: Asupa gizi: keadekuatan pola asupan zat gizi yang biasanya
o   Berat badan: Massa tubuh: Tingkat kesesuaian berat badan, otot, dan lemak dengan tinggi badan, rangka tubuh, jenis kelamin, dan usia

Kriteria hasil:
o   Memperlihatkan status gizi: asupan makanan dan cairan yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5: tidak adekuat, sedikit adekuat, cukup adekuat, adekuat, sangat adekuat)
o   Makanan oral, pemberian makan lewat slang, atau nutrisi parenteral total
o   Asupan cairan aral atau ttv
Ds:
o   Klien mengatakan menolak makanan
o   Klien mengatakan perubahan sensasi rasa
Do:
o   Kurangnya minat terhadap makanan
o   Membran mukosa pucat
o   Menolak untuk makan

Intervensi
Rasional
Beri kesempatan pasien mendiskusikan alasan untuk tidak makan
Untuk membantu mengkaji penyebab gangguan makanan
Observasi dan catat asupan pasien (cair dan padat)
Untuk mengkaji zat gizi yang dikonsumsi dan suplemen yang diperlukan
Tentukan makanan kesukaan pasien dan usahakan untuk mendapatkan makanan tersebut. Tawarkan makanan yang merangsang indara penghidu, penglihatan, dan taktil
Untuk meningkatkan nafsu makan pasien
Ciptakan lingkungan yang menyenangkan pada waktu makan
Untuk meningkatkan nafsu pasien
Hindari bertanya apakah pasien lapar atau ingin makan. Tawarkan makan dengan cara positif
Sikap positif , dan tidak membebankan dapat menghindari konfrontasi dengan pasien
Tentukan target berat badan dan biarkan pasien mencatat berat badannya setiap hari
Untuk melibatkan pasien dalam penanganan

Diagnosa: Kelebihan volume cairan berhubungan dengan mekanisme pengaturan melemah
Tujuan Umum: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam kelebihan volume cairan teratasi
Kriteria Hasil:
  • Tidak terdapat edema, efusi dan anasarka
  • Bunyi nafas normal, tidak ada dispnea/ortopnea
  • Tidak terdapat distensi vena jugularis
  • Memelihara tekanan vena setral, TTV dalam batas normal
  • Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau bingung
Ds:
o  Klien mengatakan BAK sedikit
Do:
  • Kulit pasien tampak menegang dan mengilap
  • Terdapat edema
Intervensi
Rasional
·         ukur masukan dan haluaran, catat keseimbangan positif (pemasukan melebihi pengeluaran). Timbang berat badan tiap hari, dan catat peningkatan lebih dari 0,5 kg/hari.

·         awasi TD dan CVP. Catat JVD/distensi vena.






·         auskultasi paru, catat penurunan/ tak adanya bunyi napas dan terjadinya bunyi tambahan (contoh, krekels).

·         Awasi disritmia jantung. Auskultasi bunyi jantung, catat terjadinya irama gallop
·         Batasi masukan cairan

·         Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang pembatasan intake cairan
·         Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat Diuretik
·         penurunan volume sirkulasi (perpindahan cairan) dapat mempengaruhi secara langsung fungsi/haluan urine, mengakibatkan sindrom hepatorenal
·         peningkatan TD biasanya berhubungan dengan kelebihan volume cairan tetapi mungkin tidak terjadi karena perpindahan cairan keluar area vaskuler. Distensi jugular eksternal dan vena abdominal sehubungan dengan kongesti vaskuler.
·         peningkatan kongesti pulmonal dapat mengakibatkan konsolidasi, gangguan pertukaran gas, dan komplikasi contoh edema paru.
·         Mungkin disebabkan oleh penurunan perfusi arteri koroner, dan ketidakseimbangan elektrolit
·         Menentukan berat badan ideal dan haluaran urin
·         Mengutarakan pemahaman dan kerja sama klien dengan keluarga
·         Digunakan dengan perhatian untuk mengontrol edema

Diagnosa: Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d penurunan suplai darah ke jaringan otak (tumot otak)
Tujuan umum:
o   Status sirkulasi

Kriteria hasil:
o   Tekanan systole dan diastole dalam rentang yang diharapkan
o   Tidak ada ortostatik hipertensi
o   Tidak ada tanda tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial(tidak lebih dari mmHg)
Ds:
o   Perubahan sensasi
Do:
  • Perubahan karakteristik kulit
  • Bruit
  • Perubahan tekanan darah pada ekstremitas
  • Klaudikasi
  • Kelambatan penyembuhan
  • Nadi arteri lemah
  • Edema
  • Tanda human positif
  • Kulit pucat saat elevasi, dan tidak kembali saat diturunkan
  • Diskolorasi kulit
  • Perubahan suhu kulit
  • Nadi lemah atau tidak teraba

Intervensi
Rasional
Kaji faktor penyebab dan beri penjelasan kepada keluarga tentang sebab-sebab peningkatan TIK dan akibatnya
Mempengaruhi penetapan intervensi. Kerusakan atau kemunduran tanda dan gejala neurologis atau kegagalan memperbaikinya setelah fase awal memelukan tindakan pembedahan dan atau pasien harus dipindahkan keruang perawatan kritis (ICU) untuk melakukan pemantauan TIK
Pantau atau catat status neurologis sesering mungkin dan bandingkan dengan keadaan normalnya
Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut
Monitor tanda-tanda vital seperti (tekanan darah, nadi, suhu dan frekuensi pernafasan)
Pada keadaan normal, otoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan otoreguler akan menyebabkan kerusakan vasikuler serebri yang dapat dimanefestasikan dengan peningkatan sitolik dan diikuti oleh penurunan tekanan diastolik, sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi
Tinggikan posisi kepala 30-450 dan dalam posisi anatomis (netral)
Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase dan meningkatkan sirkulasi atau perfusi serebral
Pertahankan keadaan tirah baring, ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang dan batasi pengunjung
Aktivitas atau stimulasi yang kontrol dapat meningkatkan TIK
Kolaborasi pemberian oksigen sesuai indikasi
Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi serebral dan tekanan meningkat atau terbentuknya adema
Kolabirasi pemberian obat sesuai indikasi: antikoagulan heparin, antifibrotik asam aminocaproid, antihipertensi, steroid, diuretik
Dapat digunakan untuk memperbaiki aliran darah serebral untuk mencegah lisis bekuan yang terbentuk dan perdarahan berulang

Diagnosa: Resiko tinggi jatuh berhubungan dengan gangguan penglihatan
Tujuan umum: Setelah dilakukan intervensi keperawatan 4x24 jam resiko jatuh tidak terjadi
Kriteria Hasil:
-          Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan
-          Mengidentifikasi/memperbaiki potensial dalam lingkungan
Ds:
-          Klien mengatakan pandangannya kabur
-          Klien mengatakan sulit melihat sekitar

Do:
-          Klien terlihat meraba-raba
-          Klien terlihat sulit melakukan aktivitas
-           
Intervensi
Rasional
·         Tentukan ketajaman penglihatan, kemudian catat apakah satu atau dua mata terlibat
·         Orientasikan klien terhadap lingkungan
·         Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata dapat terjadi bila menggunakan tetes mata
·         Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan klien
·         Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut
·         Meningkatkan keamanan mobilitas dan lingkungan
·         Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaantets mata dilator

·         Komunikasi yang disampaikan dapat lebih mudah dan jelas, serta membantu klien bila terjadi sesuatu

Diagnosa: Ketidakefektifan pola nafas b.d suplai o2 ke otot pernapasan
Tujuan umum:
o   Manajemen jalan nafas
Kriteria hasil:
o   Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dysneu (mampu mengeluarkan sputum. Mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
o   Memnunjukan jalan nafas paten(klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
o   Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)
Ds:
o   Dispnea
o   Sesak nafas
Do:
  • Penurunan tekanan inspirasi dan ekspirasi
  • Nafas cuping hidung
  • Penggunaan otot bantu asesorius untuk bernafas
  • Penurunan kapasitas vital
  • Perubahan ekskursi dada
Intervensi
Rasional
Manjemen jalan napas
Memfasilitasi kepatenan jalan napas
Pemantauan tanda vital
Untuk menentukan dan mencegah komplikasi
Pantau pola pernapasan auskultasi suara napas
Mengikuti tindakan selanjutnya yang akan dilakukan serta mengetahui adanya suara tambahan
Ajarkan teknik relaksasi
Untuk memperbaiki pola pernapasan
Ajarkan teknik batuk efektif
Mengeluarkan sekret
Berikan terapi nebulizer ultrasonik dan udara atau oksigen
Untuk membantu pola pernapasan
Atur posisi (flower)
Mengoptimalkan pernapasan
Kolaborasi pemberian obat
Mengoptimalkan pola pernapasan

Diagnosa: Ketidakefektifan termoregulasi b.d peningkatan suhu tubuh
Tujuan umum:
o   Termoregulasi: seimbang antara produktif panas, panas yang diterima, dan kehilangan panas
o   Termoregulasi: Neonatus: seimbang antara produksi panas, panas yang diterima, dan kehilangan panas selama 28 hari pertama kehidupan

Kriteria hasil:
o   Untuk hasil dan kriteria evaluasi pasien yang spesifik, lihat Tujuan/Kriteria Evaluasi
Ds:
Do:
o   Fluktuasi suhu tubuh diatas atau dibawah rentang normal
o   Kulit terapa hangat
o   Menggigil
o   Kulit merah


Intervensi
Rasional
Pantau suhu tubuh pasien setiap 4 jam atau lebih sering jika diindikasikan. Catat suhu dan tempat pengukurnya
Pemantauan bertujuan mengetahui keefektifan terapi atau menentukan perlunya intervensi dan memfasilitasi perbandingan data yang akurat. (suhu tubuh normal berbeda-beda sesuai tempat pengukurannya)
Pantau dan catat status neurologis pasien setiap 8 jam. Laporkan setiap perubahan keada dokter
Perubahan tingkat kesadaran dapat terjadi akibat hipoksia jaringan karena perubahan perfusi jaringan. Hipertermia meningkatkan edema serebral sehingga tekanan intrakranial meningkat: hipotermia menekan laju metabolik
Pertahankan suhu lingkungan yang nyaman:
a.       Pastikan bahwa semua permukaan besi dan plastik yang bersentuhan dengan pasien tertutupi
b.      Gunakan selimut penghangat
c.       Pastikan linen dan kain bersih dan kering
Suhu lingkungan eksternal pasien memengaruhi pemulihan pengaturan suhu tubuh
Ajarkan pasien dan anggota keluarga atau pasangan tentang:
a.       Tanda dan gejala perubahan suhu tubuh
b.      Tindakan pencegahan untuk menghindari hipotermia dan hipertermia
c.       Rasional penanganan
Pendidikan kesehatan membantu pasien berperan aktif dalam pemeliharaan kesehatan


BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Tumor otak bisa mengenai segala usia. Tapi umumnya pada usia dewasa muda atau pertengahan, jarang di bawah usia 10 tahun atau di alas 70 tahun. Sebagian ahli menyatakan insidens pada laki-laki lebih banyak dibanding wanita, tapi sebagian lagi menyatakan tak ada perbedaan insidens antara pria dan wanita.
Tumor otak atau tumor intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space occupying lesion) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen supratentorial maupun infratentorial, mencakup tumor-tumor primer pada korteks, meningen, vaskuler, kelenjar hipofise, epifise, saraf otak, jaringan penyangga, serta tumor metastasis dari bagian tubuh lainnya.
Tumor otak menunjukkan manifestasi klinik yang tersebar. Tumor ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) serta tanda dan gejala lokal sebagai akibat dari tumor yang menggangu bagian spesifik dari otak. Gejala yang biasanya banyak terjadi akibat tekanan ini adalah sakit kepala, muntah, papiledema (edema saraf optik), perubahan kepribadian dan adanya variasi penurunan fokal motorik, sensori dan disfiungsi saraf kranial.

  1. Saran
Diharapkan perawat dapat menerapkan pengetahuan mereka tentang penyakit tumot otak ini untuk diterapkan di tempat mereka bekerja. Dan juga diharapkan pula perawat dapat menerapkan konsep asuhan keperawatan pada pasien tumor otak dengan semaksimal mungkin. Dengan tujuan agar pasien– pasien pengidap penyakit tumor otak ini dapat segera sembuh dan dapat menjalankan aktivitasnya kembali seperti saat sebelum sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawtan Medikal Bedah Edisi 8 Vol.3.
           
Jakarta: EGC
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
NANDA International. 2012. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi
            2012-2014.
Jakarta: EGC
Pearce, Evelyn C. 2007. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT
            Gramedia Pustaka Utama
Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi Edisi 6. Jakarta: EGC
Taylor, Cynthia M. & Ralph, Sheila Sparks. 2010. Diagnosis Keperawatan
           dengan Rencana Asuhan Edisi 10.
Jakarta: EGC
Wilkinson, Judith M. & Ahern, Nancy R. 2012. Buku Saku Diagnosa
           Keperawatan Edisi 9.
Jakarta: EGC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

laporan pendahuluan typoid

askep gastrointestinal