laporan pendahuluan typoid
LAPORAN PENDAHULUAN
![]() |
Disusun oleh :
Warman Andreas
Disusun oleh:
Hesvi Yulhaningrum
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKes KHARISMA KARAWANG
2016
LAPORAN PENDAHULUAN
DEMAM TYPOID
1. Konsep
Kebutuhan TYPOID
1. Definisi
Merupakan salah satu penyakit infeksi sitemik
bersifat akut yang disebabkan oleh Slmonella typhi. Penyakit ini ditandai oleh
panas berkepanjangan, ditopang dengan bakterimia tanpa keterlibatan struktur
endothelia atau endokadial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi kedalam
sel fagosit monocular dari hati, limpa, kelenjar limpe usus dan peyer’s patch
dan dapat menular pada orang lain melalui makanan atau air yang terkontaminasi.
(Sumarmo, 2002)
2. Etiologi
Salmonella typhi sama
dengan salminela yang lain adalah bakteri Gram-negatif, yang mempunyai
glagella, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif anaerob. Mempunyai
antigen somatic (O) yang terdiri dari olgosakarida, flagelar antigen (H) yang
terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri dari polisakarida.
Mempunyai makromolekuler lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar
dari dinding sel dan dinamakan endotoksin. Salmonella typhi juga dapat
memperoleh plasmid factor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multiple
antibiotic
3. 
Patofisiologi (patoflow)

Patofisiologi (patoflow)
4. Manifestasi
klinis
a. Gejala
pada anak: inkubasi antara 5-40 hari dengan rata-rata 10-14 hari
b. Demam
meninggi sampai akhir minggu pertama
c. Demam
turun pada minggu ke empat, kecuali demam tidak tertangani akan penyebab syok,
stupor dan koma
d. Ruam
muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selama 2-3 hari
e. Nyeri
kepala, Nyeri perut
f. Kembung,
mual, muntah, diare, konstipasi
g. Pusing,
bradikardi, nyeri otot
h. Batuk
i.
Epistaksis
j.
Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepidan
ujung merah seta tremor)
k. Hepatomegali,
splenomegali, meteroismus
l.
Gangguan mental berupa samnolen
m. Delirium
atau psikosis
n. Dapat
timbul dengan gejala yang tidak tipikal terutama pada bayi muda sebagai
penyakit demam akut dengan disertai syok dan hipotermia
(Sudoyo Aru,dkk 2009)
Periode demam typoid, gejala dan
tanda
|
Keluhan dan Gejala Demam Typoid
|
|||
|
Minggu
|
Keluhan
|
Gejala
|
Patologi
|
|
Minggu pertama
|
Panas berlangsung insidious, tipe panas
stepladder yang mencapai 39-40oC, menggigil, nyeri kepala
|
Gangguan saluran cerna
|
Bakteremia
|
|
Minggu kedua
|
Rash, nyeri abdomen, diare atau konstipasi,
delirium
|
Rose sport, splenomegali, hepatomegali
|
Vaskulitis, hiperplasi pada peyer’s
patches, nodul typoin pada limpa dan hati
|
|
Minggu ketiga
|
Komplikasi: perdarahan saluran cerna,
perforasi, syok
|
Menela, ilius, ketegangan abdomen, koma
|
Ulserasi pada payer’s patches, nodul tifoid
pada limpa dan hati
|
|
Minggu keempat, dst
|
Keluhan menurun, relaps, penurunan BB
|
Tampak sakit berat, kakeksia
|
Kolelitiasis, carrier kronik
|
Sumber : Penyait infeksi diindonesia hal 197
5. Pemeriksaan
Penunjang
a. Pemeriksaan
Darah Perifer Lengkap
Dapat ditemukan leukopeni,
dapat pua leukositosis atau kadar leukosit normal. Leukositosit dapat terjadi
walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.
b. Pemeriksaan
SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering
meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT
ini tidak memerlukan penanganan khusus
c. Pemeriksaan
Uji Widal
Uji Widal dilakukan untuk
mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri salmonella typhi. Uji Widal
dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita Demam
Typoid. Akibat adanya infeksi oleh salmonella typhi maka penderita membuat
antibodi (aglutinin
d. Kultur
Kultur darah : bisa
positif pada minggu pertama
Kultur urin : bisa positif
pada akhir minggu kedua
Kultur feses : bisa
positif dari minggu kedua hingga minggu ketiga
e. Anti
Salmonella typhi IgM
Pemeriksaan ini dilakukan
untuk mendeteksi secara dini infeksi akut salmonella typhi, karena antibodi IgM
muncul pada hari ke-3 dan 4 terjadinya demam.
6. Komplikasi
Komplikasi dini : septikemia
dan syok septik, syok hipovolemik, sepsis intra abdomen rekuren yang tidak
dapat dikontrol dengan kegagalan multi sistem, abses residual intraperitoneal,
portal pyemia (misal abses hepar)
Komplikasi lanjut :
adhesi, obstruksi intestinal rekuren
7. Penatalaksanaan
Medis
·
Kloramfenikol, dosis 50 mg/kgBB/hari terbagi
dalam 3-4 kali pemberian, oral atau IV selama 14 hari
·
Bila ada kontraindikasi kloramfenikol diberikan
ampisilin dengan dosis 200 mh/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian,
intravena saat belum dapat minum obat, selama 21 hari, atau amoksilin dengan
dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian, oral/intravena
selama 21 gari kontrimoksasol dengan dosis (tmp) 8 mg/kgBB/hari terbagi dalam
2-3 kali pemberian, oral, selama 14hari.
·
Pada kasus berat, dapat diberi seftriakson
dengan dosis 50 mg/kgBB/hari dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kgBB/hari,
sekali sehari, intravena, selama 5-7 hari
·
Pada kasus yang diduga mengalami MDR, maka
pilihan antibiotiks adalam meropenem, azithromisin dan fluroquinolon
2. Rencana
Asuhan Keperawatan klien dengan demam typoid
1. Pengkajian
a. Riwayat
keperawatan
Tanyakan tetntang pola
kebersihan individu sehari-hari, sarana dan prasarana yang dimiliki, serta
faktor-faktor yang mempengaruhi personal higiene individu, baik faktor
pendukung maupun faktor pencetus.
b. Pemeriksaan
fisik
Pada pemeriksaan fisik,
kaji personal higiene individu, mulai dari eksteremita atas samapai bawah.
1) Rambut.
Amati kondisi rambut (warna, tekstur, kuantitas),apakan tampak kusam? Apakah
ditemukan kerontokan?
2) Kepala.
Amati denga seksama kebersihan kulit kepala. Perhatikan adanya ketombe,
kebotakan atau tanda-tanda kemerahan.
3) Mata.
Amati adanya tanda-tanda ikhterus, konjungtiva anemis, sekret pada kelopak
mata, kemerahan atau gatal-gatal pada mata.
4) Hidung.
Amati kondidsi kebersihan hidung, kaji adanya sinusitis, perdarahan hidung,
tanda-tanda flu yang tidak kunjung sembuh, tanda-tanda alergi atau perubahan
pada daya penciuman.
5) Mulut.
Amati kondisi mukosa mulut dan kaji kelembapannya. Perhatikan adanya lesi,
tanda-tanda radang gusi/ sariawan, kekeringan atau pecah-pecah, kebersihan
mulut ...
6) Gigi.
Amati kondisi dan kebersihan gigi, perhatikan adnya tanda-tanda karang gigi,
karies, gigi peceh-peceh, tidak lengkap atau gigi palsu.
7)
Telinga. Amati kondisi kebersihan telinga.
Perhatiakan adanya serumen atau kotoran pada telinga, lesi, infeksi atau
perubahan daya pendengaran.
8)
Kulit. Amati kondisi kulit (tekstur, turgor,
kelembapan) dan kebersiahannya. Perhatikan adanya perubahan warna kulit, stria,
kulit keriput, lesi atau pruritus. Daki kusam berminyak ..
9)
Kuku tangan dan kaki. Amati bentuk dan
kebersihan kuku panjang kuku... Perhatiakan adanya kelainan atau luka.
10)
Genitalia. Amati kondisi dan kebersihan
genitalia berikut area perineum. Perhatiakan pola pertumbugan rambut pubis/
pada laki-laki, perhatiak kondisi skrotum dan testisnya.
11)
Personal higiene secara umum. Amati kondisi dan
kebersiahn kulit secara umum. Perhatiakan adanya kelainan pada kulit atau
bentuk tubuh.
2. Diagnosan
keperawatan yang mungkin muncul
Diagnosa 1 : Ketidakefektifan
termoregulasi b.d fluktuasi suhu lingkungan, proses penyakit
a. Definisi
Fluktuasi suhu tubuh
pasien antara hipotermia dan hipertermia
b. Batasan
karakteristik
·
Kulit dingin
·
Dasar kuku sianosis
·
Fluktuasi suhu tubuh di atas atau dibawah
rentang normal
·
Pucat
·
Penurunan suhu tubuh di bawah rentang normal
·
Menggigil (ringan)
·
Pengisian kembali kapiler lambat
·
Takikardia
·
Kulit teraba hangat
c. Faktor
yang berhubungan
·
Penuaan
·
Fluktuasi suhu lingkungan
·
Penyakit
·
Imaturitas
·
Trauma
Diagnosa 2 : Nyeri akut
b.d proses peradangan
a. Definisi
Pengalama sensori dan
emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial; atau digambarkan dengan istilah seperti (International Association
for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas
ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan
dan durasinya kurang dari enam bulan.
b. Batasan
karakteristik
·
Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan
nyeri dengan isyarat
·
Perubahan tonus otot (dari lemah sampai keras)
·
Respons autonomik tidak terlihat pada nyeri
kronis stabil (diaforesis, perubahan tekanan dan denyut nadi, pupil terdilatasi,
dan peningkatan atau penurunan kecepatan pernapasan)
·
Perubahan selera makan
·
Perilaku distraksi, seperti mondar mandir,
mencari orang dan/atau aktivitas lain, aktivitas berulang
·
Perilaku ekspresif seperti merintih, menangis, kewaspadaan
berlebihan, peka terhadap rangsang, dan menghela napas panjang)
·
Topeng wajah nyeri, yang ditandai denagn mata
kurang bersinar, terlihat “kusut”, gerakan sulit atau tidak karuan atau
menyernyit.
·
Perilaku berhati-hati atau melindungi, seperti
menyokong satu bagian tubuh
·
Bukti nyeri yang dapat diamati
·
Berfokus pada diri sendiri
·
Gangguan tidur seperti mata terlihat kayu,
gerakan tidak teratur atau tidak menentu dan menyeringai
c. Faktor
yang berhubungan
Agens-agens penyebab
cedera (misalnya, biologis, kimia, fisik, dan psikologis)
Diagnosa 3 : Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat
a. Definisi
Asupan nutrisi tidak
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik
b. Batasan
karakteristik
·
Kram abdomen
·
Nyeri abdomen (dengan atau tanpa penyakit)
·
Menolak makan
·
Persepsi ketidakmampuan untuk mencerna makanan
·
Melaporkan perubahan sensasi rasa
·
Merasa cepat kenyang setelah mengkonsumsi
makanan
·
Pembuluh kapiler rapuh
·
Diare atau steatore
·
Kehilangan rambut yang berlebihan
·
Bising usus hiperaktif
·
Kurang informasi, informasi yang salah
·
Kurangnya minat terhadap makanan
·
Salah paham
·
Membran mukosa pucat
·
Tonus otot buruk
·
Rongga mulut terluka [inflamasi]
·
Kelemahan otot yang berfungsi untuk menelan atau
mengunyah
c. Faktor
yang berhubungan
·
Ketergantungan zat kimia
·
Penyakit kronis
·
Kesulitan mengunyah atanu menelan makanan
·
Kebutuhan metabolik tinggi
·
Refleks menghisap pada bayi tidak adekuat
·
Kurang pengetahuan dasar tentang nutrisi
·
Akses terhadap makanan terbatas
·
Hilang nafsu makan
·
Mual dan muntah
·
Pengabaian oleh orang tua
·
Gangguan psikologis
Diagnosa 4 : resiko
kekurangan volume cairan b.d intake yang tidak adekuat dan peningkatan suhu
tubuh
a. Definisi
Kondisi individu yang
beresiko mengalami dehidrasi vaskular, selular, atau intraselular
b. Batasan
karakteristik
·
Penyimpangan yang memengaruhi akses untuk
pemasukan atau absorpsi cairan (misalnya,imobilisasi fisik)
·
Kehilangan yang berlebihan melalui rute normal
(misalnya. Diare)
·
Usia ekstrem (bayi baru lahir atau lansia)
·
Berat badan ekstrem (kurang atau berlebih)
·
Faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan
(misalnya, status hipermetabolik)
·
Defisiensi pengetahuan [yang berhubungan dengan
volume cairan]
·
Kehilangan cairam melalui rute yang tidak normal
(misalnya, slang kateter menetap)
·
Obat (diuretik)
c. Faktor
yang berhubungan
Diagnosa 5 : Konstipasi
b.d penurunan motilitas traktus gastrointestinal (penurunan usus)
a. Definisi
Penurunan frekuensi normal
defekas yang disertai pengeluaran feses yang sulit atau tidak lampias atau
pengeluaran feses yang sangat keras dan kering.
(Wilkinson, Judith. M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan ; Diagnosis
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.Jakarta : EGC)
b. Batasan
karakteristik
·
Nyeri abdomen
·
Nyeri tekan pada abdomen dengan atau tanpa
resistansi otot yang dapat dipalpasi
·
Anoreksia
·
Perasaan penuh atau tekanan pada rektum
·
Kelelahan umum’
·
Sakit kepala
·
Peningkatam tekanan abdomen
·
Indigesti
·
Mual
·
Nyeri saat defekasi
·
Perubahan pada suara abdomen (borborigmi)
·
Perubahan pada defekasi
·
Penurunan frekuensi
·
Penurunan volume feses
·
Distensi abdomen
·
Feses yang kering, keras, dan padat
·
Bising usus hipoaktif atau hiperaktif
·
Pengeluaran feses cair
·
Massa abdomen dapat dipalpasi
·
Massa rektal dapat dipalpasi
·
Bunyi pekak pada perkusi abdomen
·
Adanya feses, seperti pasta di rektum
·
Flatus berat
·
Mengejan saat defekasi
·
Tidak mampu mengeluarkan feses
·
Muntah
(Wilkinson, Judith. M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan ; Diagnosis
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.Jakarta : EGC)
c. Faktor
yang berhubungan
·
Kelemahan otot abdomen
·
Kebiasaan menyangkal dan mengabaikan desakan
untuk defekasi
·
Eleminasi atau defekasi yang tidak adekuat
·
Aktivasi fisik yang tidak memadai
·
Kebiasaan defekasi yang tidak teratur
·
Perubahan lingkungan baru-baru ini
·
Depresi
·
Stres emosi
·
Konfusi mental
·
Antasida yang mengandung alumunium
·
Antikolinergis
·
Antikonvulsan
·
Antidepresan
·
Agens antilipemik
·
Garam bismuth
·
Kalsium karbonat
·
Penyekat saluran kalsium
·
Diuretik
·
Garam besi
·
Over dosis laksatif
·
Agens anti-inflamasi nonsteroid
·
Opiat
·
Fenotiazid
·
Sedatif
·
Simpatomimetik
(Wilkinson,
Judith. M. 2011. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan ; Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.Jakarta :
EGC)
3. Perencanaan
Diagnosa 1 : Ketidakefektifan termoregulasi b.d fluktuasi
suhu lingkungan, proses penyakit
a. Tujuan
dan kriteria hasil
·
Menunjukan termoregulasi, dibuktikan oleh
indikator, sebagai berikut:
·
Peningkatan suhu tubuh
·
Penurunan suhu tubuh
·
Hipertermia
·
Hipotermia
·
Tidak memperlihatkan berkeringat, menggigil, dan
merinding
·
Mempertahankan tanda-tanda vital dalam batas
normal
·
Melaporkan suhu yang nyaman
b. Intervensi
keperawatan dan rasional
·
Pantau suhu tubuh pasien setiap 4 jam, atau
lebih sering jika diindikasikan. Catat suhu dan tempat pengukurannya
R/ pemantauan bertujuan mengetahui keefektifan terapi atau menentukan
perlunya intervensi dan memfasilitasi perbandingan data yang akura. (suhu tubuh
normal berbeda-beda sesuai tempat pengukurannya)
·
Pantau dan catat status neurologis pasien setiap
8 jam. Laporkan setiap perubahan kepada dokter
R/ perubahan tingkat kesadaran dapat terjadi
akibat hipoksia jaringan karena perubahan perfusi jaringan. Hipertermia
meningkatkan edema sehingga tekanan intrakranial meningkat; hipotermia menekan
laju metabolik
·
Pantau dan catat frekuensi dan irama jantung
pasien, tekanan darah, dan frekuensi pernafasan setiap 4 jam
R/ hipertermia menyebabkan metabolisme jaringan meningkat (metabolisme
meningkat 7% setiap peningkatan suhu 0,5oC) sehingga kebutuhan
oksigen meningkat yang dapat menyebabkan hipoksia. Ini juga menyebabkan
pernapasan lebih cepat dan frekuensi nadi meningkat
·
Berikan analgesik, antipiretik, dan obat yang
dapat mencegah menggigil, sesuai program. Patau dan catat keefektifannya
R/ antipiretik membantu menurunkan demam. Menggigil cenderung
memperlambat penurunan suhu tubuh
·
Lakukan tindakan yang dianjurkan
o
Buka selimut pasien ; pakaikan kain tipis
o
Letakkan kantong es di aksila dan lipat paha
o
Mandi seka dengan air hangat
o
Gunakan seliut pendingin jika suhu meningkat di
atas. Dinginkan pasien hingga
R/ untuk mengurangi demam yang berlebihan pada pasien jika diperlukan
·
Pertahankan hidrasi pasien:
o
Pantauan asupan dan haluaran
o
Berikan cairan perenteral sesuai program
o
Tentukan minuman kesukaan pasien. Tempatkan
minuman di sisi tempat tidur pasien dan dorong pasien untuk minum
R/ tindakan-tindakan tersebut membantu mempertahankan keseimbangan
cairan. Menempatkan minuman kesukaan di sisi tempat tidur memungkinkan pasien
berpartisipasi aktif dalam penanganan yang diprogramkan
·
Pertahankan suhu lingkungan yang nyaman:
o
Pastikan bahwa semua permukaan besi dan plastik
yang bersentuhan dengan pasien tertutupi
o
Gunakan selimut penghangat
o
Pastikan linen dan kain bersih dan kering
R/ Suhu lingkungan eksternal pasien memengaruhi pemulihan pengaturan suhu
tubuh
·
Ajarkan pasien dan anggota keluarga atau
pasangan tentang:
o
Tanda dan gejala perubahan suhu tubuh
o
Tindakan pencegahan untuk menghindari hipotermia
atau hipertermia
o
Rasional penanganan
R/pendidikan kesehatan membantu pasien berperan aktif dalam pemeliharaan
kesehatan
Diagnosa 2 : Nyeri akut
b.d proses peradangan
1) Tujuan
dan kriteria hasil
·
Memperlihatkan pengendalian nyeri, yang
dibuktikan oleh indikator sebgai berikut:
·
Mengenali awitan nyeri
·
Menggunakan tindakan pencegahan
·
Melaporkan nyeri dapat dikendalikan’ekspresi
nyeri pada wajah
·
Gelisah atau ktegangan otot
·
Durasi episode nyeri
·
Merintih dan menangis
·
Gelisah
2) Intervensi
keperawatan dan rasional
Minta pasien untuk
menggunakan sebuah skla 1 sampai 10 untuk menjelaskan tingkat nyerinya (dengan
nilai 10 menandakan tingkat nyeri paling berat)
R/ untuk memfasilitasi pengkajian yang akurat tentang tingkat nyeri pasien
Berikan obat yang
dianjurkan untuk menguranginyeri, bergantung pada gambaran nyeri pasien. Pantau
adanya reaksi yang tidak diinginkanterhadap obat. Sekitar 30 sampai 40 menit
setelah pemberian obat, minta pasien untuk menilaikembali nyerinya dengan suka
R/ untuk menentukan keefektifan obat
Atur periode istirahat
tanpa terganggu
R/ tindakan ini meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan peningkatan
tingkat energi yang penting untuk mengurangi nyeri
Bantu pasien untuk
mendapatkan posisi nyaman dan gunakan bantal untuk membebat atau menyokong
daerah yang sakit, bila diperlukan
R/ untuk menurunkan ketegangan atau spasme otot dan untuk mendistribusikan
kembali tekanan pada bagian tubuh
Diagnosa 3 :
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak
adekuat
1) Tujuan
dan kriteria hasil
Memperlihatkan status gizi : asupan makanan dan cairan, yang
dibuktikan oleh indikator sebagai berikut
·
Makanan oral, pemberian makan lewat selang, atau
nutriri parenteral total
·
Asupan cairan oral atau IV
2) Intervensi
keperawatan dan rasioal
·
Berikan kesempatan pasien mendiskusikan alasan
untuk tidak makan
R/ untuk membantu mengkaji penyebab gangguan makan
·
Observasi dan catat asupan pasien (cairan dan
padat)
R/ Untuk mengkaji zat gizi yang dikonsumsi dan suplemen yangdiperlukan
·
Tentukan makanan kesukaan pasien dan usahakan
untuk mendapatkan makanan tersebut. Tawarkan makanan yang merangsang indra
penghidungan, penglihatan dan taktil
R/ untuk meningkatkan nafsu makan pasien
·
Tawarkan suplemen tinggi protein, tinggi kalori,
seperti susu kocok, puding, atau es krim
R/ makanan tersebut mencegah kerusakan protein tubuh dan memberikan kalori
energi
·
Ciptakan lingkungan yang menyenangkan pada waktu
makan
R/ untuk meningkatkan nafsu makan pasien
·
Tentukan target berat badan dan biarkan pasien
mencatat berat badannya setiap hari
R/ untuk melibatkan pasien dalam penanganan
·
Rujuk pasien dan anggota keluarga atau pasangan
kepada profesional kesehatan mental yang tepat. Kebanyakan gangguan makanan
bersifat psikologis. Pasien dan anggota keluarga atau pasangan harus
ditindaklanjuti dan ditangani
R/ untuk mencegah kekambuhan
Diagnosa 4 : Resiko
kekurangan volume cairan b.d intake yang tidak adekuat dan peningkatan suhu
tubuh
1) Tujuan
dan kriteria hasil
Kekurangan volume cairan akan dicegah, yang dibuktikan oleh
ketidakseimbanagn cairan, keseimbangan elektrolit dan asam-basa, hidrasi, dan
status nutrisi: asupan makanan dan cairan
2) Intervensi
keperawatan dan rasional
·
Pantau turgor kulit dan catat penurunannya
R/ turgor kulit buruk merupakan suatu tanda dehidrasi
·
Periksa memban mukosa mulut
R/ membran mukosa yang kering merupakan suatu tanda dehidrasi
·
Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam
R/ takikardia, hipotensi, dipsnea atau demam
·
Ukur berat badan pasien setiap hari dan catat
hasilnya
R/ pengukuran berat bada setiap hari dapat membantu memperkirakan
status cairan tubuh
·
Berikan dan pantau cairan parenteral, sesuai
anjuran
R/ untuk mengembalikan kehilangan cairan
·
Tentukan cairan/minuman kesukaan pasien
R/ untuk meningkatkan asupan
·
Pertahankan pencatatan asupan dan haluaran yang
akut
R/ untuk membantu perkirakan keseimbangan cairan pasien
·
Berikan dan pantau pengobatan, seperti
antiemetik dan antidiare
R/ untuk mencegah kehilangan cairan
Diagnosa 5 : Konstipasi b.d
penurunan motilitas traktus gastrointestinal (penurunan usus)
1) Tujuan
dna kriteria hasil
Konstipasi menurun,yang
dibuktikan oleh defekasi:
·
pola eleminasi dalam rentang yang diharapkan
·
Feses lunak dna berbentuk
·
Mengeluarkan feses tanpa bantuan
·
Darah di dalam feses
·
Nyeri saat defekasi
2) Intervensi
keperawatan dan rasional
·
Pantau frekuensi dan karakteristik feses pasien
R/ sebagai acuan rencana penanganan yang efektif
·
Pantau dan catat asupan dan haluaran cairan pasien.
R/ asupan cairan tidak adekuat menyebabkan feses keras dan konstipasi.
Pemantauan keseimbangan cairan yang adekuat dan meningkatkan eleminasi
·
Berikan privasi untuk eleminasi
R/ untuk meningkatkan fungsi fisiologis
·
Dorong pasien untuk menggunakan comode di
samping tempat tidur atau berjalan ke toilet. Hindari penggunaan pispot
R/ penggunaan pispot dapat menghambat pengaturan posisinormal untuk
pengeluaran feses sehingga akan memperburuk konstipasi
·
Susun rencana dan implementasi program defekasi
individual bersma pasien
R/ untuk menentukan jadwal eleminasi dengan tertur
·
Ajarkan kepada pasien untuk memijat abdomennya
satu kali setiap hari. Tunjukkan kepadanya tempat pemijatan dan cara
melakukannya secara perlahan sepanjang kolon transversa dan desenden
R/ pada pasien lansia, pusat saraf yang ada di usus bagian bawah
mungkin mengalami kerusakan, sehingga menyebabkan tubuh sulit mengeluarkan
feses. Pemijatan dapat menstimulasi peristaltik dan keinginan untuk defekasi
·
Dorong pasien untuk mengkonsumsi makanan tinggi
serat
R/ kebanyakan pasien lansia mengalami penurunan tonus otot intestinal
dan penurunan kekuatan otot abdomen, yang mengakibatkan peristaltik lambat,
feses kering, dan penurunan kemampuan mengejan ketika defekasi. Makanan tinggi
serat menyuplai bulk untuk menciptakan eleminasi yang normal dan meningkatkan
tonus otot intestinal
Daftar Pustaka
Brunner.
2013. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12.jakarta
: EGC.
Nurarif,
Huda Amin. 2015. Aplikasi Asuhan
Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA NIC-NOC. Yogyakarta :
MediAction.
Smeltzer,
Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Taylor,
Cynthia M. 2010. Diagnosis Keperawatan :
dengan Rencana Asuhan. Jakarata : EGC.
Wilkinson,
Judith M. & Ahern, Nancy R 2012. Buku
Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 9. Jakarta: EGC

Komentar
Posting Komentar